Minggu, 14 Desember 2008
Bangga VS Kecewa
Akupunya teman yg selalu senang saat aku senang, sehingga sampai-sampai merekapun senang menghilang saat aku butuh sentuhan dan perlu melihat mimik wajahnya. padahal hanya itu yg aku butuh.aku kecewa!apa aku kurang baik ?apa aku terlalu jahat pd mereka?
persetan dgn senyum kalian, para kawan picik!
lupakan mereka yg hanya menjadi kaum hedon. kaum instans pragmatis. yg terpenting aku punya kasih yg selalu kasih dgn kasihnya. menjagaku dan menjaga hatiku yg terlanjur aku titipkan padanya.aku menikmati sukarelanya.
Ideologiku menolongku. dia adalah terapi kejut yg sporadis membingkaiku. aku menyayanginya dan akan tetap aku bela.
terima kasih.... aku telah dibukakan inti dari kebenaran bukan hakekat pembenaran. aku bisa tahu apa itu kawan dan siapa itu pecundang dan para lokalisasi benalu persahabatan.
dalam memang kekecewaanku saat ini....aku yakin ada hikmahnya. hikmah dari pelajaran para pembual opportunist.
Sabtu, 15 November 2008
Amarah Beranak Karya

Akhir dari kerja keras terciptalah sudah karya perdana yang bernama Buletin Sikap Edisi november (12/11). "jendral" baru, tentu juga didukung oleh "kopral dan Prajurit"baru jua. kegembiraan tak terhingga saat yang suram itu jadi terang-meski baru pemanasan-bangun dari pesimis karena sempat merasa tergusur-tak dianggap-mundur satu langkah maju beberapa langkah, kata itu cukup jadi penyemangat diri, dikala labil emosi menguasai asa yang sulit terkendali.
terima kasih kepada Pinum dan kru seperjuangan dengan solid menggarap edisi buletin yang sarat api dan amarah tawa. untuk editor Thanks berat. Tak tertinggal buat my sweety girl, yang selalu beri segudang spirit demi kebangkitan ruh Joe Siregar dialam komunitas internal.
Untuk Sekred, Imonk! apresiasi semua jempol atas kesetiaannya, kesabarannya menghadapi pemred yang kadang tak segan-segan membentak-berkata kasar-to Ubaidillah, fatner yang asik tetap semangat ok cayooo! kita tunjukan pada dunia bahwa SiGMA juga punya Laskar-bukan Laskar Jihat-tapi Laskar hitam-Putih, kenapa? karena Dua warna itu selalu ada dalam setiap napas, misalnya Issu Baik dan buruk, menyajikan semua aspek yang layak dikonsumsi kaum akademis-saya pikir semua berpasangan-"Hitam-Putih"
Penutup di coretan inieee....saya ucapkan Terima kasih Tuhan
Senin, 27 Oktober 2008
Buramku?

Lama nian aku enggak corat-coret blog ini....sekedar info mklum banyak kesibukan dibulan-bulan ini-terutama di External (GMNI)-akh...kenapa ya!
Ada buram pesimis dalam diriku tentang komunitasku yang selam ini menemaniku di internal kampus. Apa aku masih terkontaminasi pada suasana mudik. Apa memang aku yang masih terdegredasi?
Kemaren aku habis sepikan diri dengan membaca sebuah buku kecik Tragedi dan Komedinya Ayup Yahya. menceritakan tragedi sehari yang lucu, lugas dengan bahasa tutur semi formal. buku yang lumayan menyedot daya tarikku. Benang merah penggugah motivasi.
Delema kehidupan bak show. Konser dan teatrekal yang di hiasi pernak pernik dan manuk manik lampu hiasan dengan daya terang, gelap dan buram. Begitu hal yang menjemputku saat ini.
Tadi aku berbincang dengan sahabatku, Malik al-Mughni. pamerkan optimismeku tumpahkan kepadanya tentang kegiatanku di Eksternal kampus. aku menikmatinya. juga aku muntahkan pesimisnya aku berada dalam kancah kegiatan diinternal.
Endingnya, Dia memberi motivasi dengan gaya petuahnya yang khas, "mungkin lu perlu fatner saja," katanya.
terjatuh itu yang terjadi padaku, saat ini...!!!
Rabu, 24 September 2008
DEMONSTRAN, SEBUAH OBSESI

Di atas atap Bis, kami berteriak sambil serempak menyanyikan yel-yel penyemangat, “Permisi-permisi kami mau lewat, kalau enggak dikasih urusan bisa gawat.”
Itu terjadi tiga tahun yang lalu, saat aku melepas kostum celana abu-abu (seragam SMA). Terngiang dalam hatiku bahwa aku akan menjadi siswa yang tertinggi, yang bernama Mahasiswa. Saat itu juga perang batinku membayangi apa itu mahasiswa dan mau melakukan apa ketika aku nanti menjadi mahasiswa. Gembira sekali dan tak sabar lagi, aku ingin cepat-cepat mengenakan predikat agent of change dan social control. Indah nian ketika aku bebas dari aturan yang selama ini meng-cut kebebasanku berekpresi, terutama bebas dari seragam yang telah 12 tahun menggerogoti, memaksa aku tunduk untuk mengenakannya semenjak SD (Sekolah Dasar).
Aturan yang aku rasa melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) tersebut sangat membunuh kreativitasku. Baju harus dimasukan kedalam celana dibarengi ikat pinggang. Pada suatu waktu,dimasa SD doeloe aku dan dua temankutidak memasukkan baju kedalam celana. Tanpa ampun tiba-tiba ada seorang guru yang “rese” langsung menyeret kami ke depan kelas. Kami ditelanjangi di depan teman-teman sekelas, miris yang menggerigis.
Cukup sudah konstitusi itu mengungkungku. Dan tidak heran aku begitu sumringah ketika memasuki dunia kampus. Tergambar olehku saat itu, mahasiswa adalah manusia yang penuh kharisma. Bisa berkoar mengkritisi kebijakan penguasa dan pengusaha. Demonstrasi, ya! satu obsesi ku waktu itu, ingin berdemo menentang segala kebiadaban aparat dan birokrat. kini, hal itu sudah ku jalani, waktu semester satu demo menjadi tradisi, baik dengan issu lokal maupun nasional. Kesan terindah waktu aku berkesempatan untuk berunjuk rasa -aksi damai- menentang kebijakan presiden SBY menaikan BBM pada tahun 2005 di bundaran HI, Istana hingga gedung MPR/DPR RI Jakarta.
Gegap gempita aku rasakan ketika naik di atas Bis, membawa bendera almamater kampusku, IAIN “SMH” Banten. Aku duduk-berdiri di atap Bis Berbaur dengan Mahasiswa yang mengenakan almamater kuning, perwakilan dari kampus UI.
Di atas atap Bis, kami berteriak sambil serempak menyanyikan yel-yel penyemangat, “Permisi-permisi kami mau lewat, kalau enggak dikasih urusan bisa gawat.” Obsesi untuk menjadi pendemo telah aku sandang meskipun tidak senakal dan seganas Soe Hok Gie dan Hariman Siregar sehingga malahirkan Tragedi ‘malari’. Itu cukup jadi ingatan walau belum seberapa..
Sekarang aku menginjak semester tujuh, kadang aku hanya bisa tersenyum dan nyengir jika mengenang obsesi anehku saat itu. Juga bisa mengerutkan dahiku jika melihat Indek Prestasiku saat itu kurang dari tiga. heheey…tapi tidak mengapa! Setidaknya batinku puas bisa mengepalkan tangan kiri tanda perlawanan kepada penguasa yang otoriter dan bisa berteriak lantang mengutuk kebejatan mereka yang tidak membesarkan kemaluan nya (tidak malu) mengindahkan amanat penderitaan rakyat.
Bukankah founding father, Bung Karno telah mencontohkan kegigihannya, kepintarannya dalam menyusun strategi demi memerdekakan bangsa ini? Sang Proklamator pernah berkata “aku akan bekerjasama kepada siapa saja, meskipun kepada setan terkutuk sekalipun asal bisa menjamin membebaskan negeriku dari cengkaraman penjajah.” Semangat itulah yang mendorong aku untuk tetap bangga sebagai anak
Salam Pemikir-Pejuang, Pejuang-Pemikir
- Tulisan ini hanyalah gejolak penulis, emosi aneh yang membahana.
Selasa, 16 September 2008
Pengakuanku Untuk Dirinya

"Untuk mu yang nenyembuhkan tatkala aku terjatuh//Mengingatkan saat aku lupa//Kau segala-galanya bagiku."
Siang tadi, Medio September (16/09) aku tergeletak jatuh di Graha SiGMA-masuk angin- badan panas dingin dan kepala terasa di tusuk-tusuk. Hari itu aku benar-benar down. Sebenarnya itu bermula ketika aku bolak-balik keatas-kebawah fakultas Uswah, nungguin salah satu pegawai akademik fakultas. Panasnya mentari bakarkan otak kepala ku juga gersangnya kampus jingga menambah penat di hari yang kelabu itu.
Bukan berarti mengikuti penyakit Naga Bonar-diperankan oleh Dedi Mizhar, mengisahkan tentang seorang pencopet dari medan yang mempunyai jiwa nasionalisme tinggi- ya! Malarianya akan datang spontan tatkala ia kenah air alias mandi. Aku juga mengalami hal yang sama jika kebanyakan bersentuhan dengan air, aku akan meradang kedinginan-menggigil-biasanya langganan tiap pecan/bulan. Tapi bukan berarti aku enggak pernah mandi-aku tetap mandi-apalagi jika ada acara atau kuliah, aku giat untuk mandi. Meskipun hanya kadang satu kali sehari…heheey.dari pada tidak sama sekali.
Jika malaria datang langsung membunuh sendi kekebalan tubuhku, Tapi hari ini tidak lagi karena ada dia, dokter hati yang lembut. Beruntung dan sangat beruntung, aku masih bisa tersenyum dan bangkit dari kejemuan karena di dampingi oleh gadis manis nan setia merawatku,Syifa nama gadis yang cantik dan cerdas itu. perhatiannya begitu besar dan tak ada alasan bagi ku untuk menyembunyikan rasa bahagia ini.
Dengan ikhlas ia menemaniku di studio. Menggosok badan ku dengan minyak kayu putih dan sibuk mengompres jidatku yang besar ini. Alhamduliillah aku cepat pulih dan siuman dari tidur menjelang buka puasa (Maghrib).
Terima kasih sayang-terima kasih, ya hanya kata terima kasih yang bisa aku katakan padamu. Mungkin tanpa dirimu aku akan terus tergeletak lalu menggigil sampai tiga atau seminggu. Karena aku sudah biasa terserang penyakit ini semenjak kecil, bawaan dari orok mungkin.
“Thanks My God! Kehendakmu telah pertemukan aku padanya Sebuah anugerah yang tak terhingga”
Selasa, 12 Agustus 2008
Hasrat “Membabi Buta”

Masa lalu tak harus jadi ingatan, tapi ada seorang “gadis manis” bilang kepadaku bahwa hari ini adalah bagian dari masa lalu. Saat berbicara doeloe atau dengan kata kiasan zaman firaun ngojek atau zaman sumpah palapah, aku sering tertawa sendiri. Bagaimana perkembanganku waktu kecil dimanjai dengan seragam aparat hukum oleh bapakku –dari seragam polisi, angkatan laut sampai Abri- itu wajar saja karena doeloe saat kecil, ketika ditanya oleh sanak keluarga, aku selalu bilang ingin menjadi ABRI karena ingin punya tembakan. Untuk saat ini, jujur aku sulit untuk berbicara masa depan. Masa yang belum jelas kejadiaanya. Apakah mungkin seorang anak nelayan biasa yang berasal dari pesisir kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di desa Tanjung Sangkar -Lepar Pongok ( Bangka- Selatan ) mampu jadi kebanggaan tanah leluhur?
Tanya ini sering jadi lamunanku saat menjelang tidur. Apa mampu? Akankah malu yang diterima jika semua jadi semu. Atau hanya menjadi penyesalan yang tiada akhir? kesuksesan tidak dinilai dari keberhasilan tapi bagaimana prosesnya, begitu kata yang pernah aku dengar dari seorang teman. Banyak sudah energi yang ku habiskan dalam berproses. Demi kelangsungan hobiku yang doyan dunia politik, aku berproses aktif disalah satu organisasi yang beasaskan Marhaen Bung Karno, yaitu Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). atau mengingat hobiku yang sering berlama-lamaan hanya sekedar nongkrong rutin di kantin kampus, untuk mencari issu berita demi almamater yang aku sandang sebagai insan jurnalis kampus.
Keaktifan aku di salah satu gerakan mahasiswa demi hasrat yang ingin menjadi pengambil kebijakan di daerah asalku atau setidaknya belajar jadi pemimpin dengan berorganisasi. Tapi ada tekad besarku “membabi buta” menjadi jurnalis handal atau penulis lepas yang mencerdaskan. Aku sadar bahwa tulisanku jauh dari paripurna (mungkin membosankan pembaca). Mengasah tulisan agar berkembang demi kualitas diri yang telah memilih menjadi penulis merupakan program prioritasku. meski aku tahu belum ada karya yang berarti yang telah aku persembahkan.(heeheeeeeeey).
Sering aku berkhayal, indahnya dunia jika suatu saat nanti (entah kapan) karyaku menjadi best seller selalu ditunggu-tungu oleh pembaca. Tulisan yang merangsang pembaca untuk berempati dengan koar yang ku tuangkan. Undangan numpuk untuk diminta mengisi pelatihan atau seminar. Wah sungguh khayalan tingkat tinggi yang sulit untuk ku gapai.
Ketakutan terus membayagiku. dia mengejar, menghimpit dan terus mengikuti kemana aku melangkah. Kadang bayangan itu mengancam jika aku terlena tanpa kegiatan apapun. Meskipun hanya Ancaman halusinasi tapi ancaman itu keras dan ganas. Sesuatu malapetaka besar-melebihi tragedi bintaro atau tsunami aceh- akan datang jika aku gagal. Kadang halusinasi itu memberi motivasi tepat waktu ketika kondisiku sedang labil alias mumet.
Kapan aku bisa duduk sama rata berdiri sama tinggi, sejajar satu meja –dengan yang lain-untuk mengupas dan mengulas issu. Menjadi jurnalis professional?
Jumat, 08 Agustus 2008
Tangisanku Amarah Bagi Bapak

Waktu kecil-sekitar umur enam tahunan gitu deh. aku selalu dekat dengan my bokap nu ghokil tea. saking dekatnya setiap bapak yang doyan ngisep rokok Surya ini bepergian selalu aku buntuti. dari pergi ke laut-my bokap adalah pelaut ulung-hehey sampai maen gaple bareng teman-temannya selalu aku ikuti. ya! begitulah bokapku yang super gaul-bergaul dengan siapa saja-sikapnya yang ramah, murah senyum-sering diobral kalee-membuat aku betah berlama-lama berbicara dengannya. setiap pulang mudik-ketika nyampe rumah-aku selalu menanyakan kemane ba' (kemana bapak?). kadang ku sempatkan untuk ngobrol-ngobrol dan nonton bola bareng dengan ditemani cemilan sekadarnya. nah mungkin juga diriku terkontaminasi oleh sifat bapakku.heee! "buah apel emang tidak jauh jatuh dari pohonnnya."
Masa-masa lucu penuh tawa dan canda saat disisi bapakku. dia tidak keras tapi tegas. ya! bijaksana kalee...kebijaksanaannya imenurut ingatanku saat mau marah dia selalu senyam-senyum dan menyuruh aku untuk minggat dari pandangannya sebelum kemarahannya klimak. dia tak pernah memanjakan aku (boro-boro)haha
ada kisah unik yang pernah terjadi pada diriku. terjadi waktu aku kelas 4 SD. tempat sekilahku berada dikawasan pemukiman suku Bugis-pendatang dari Sulawesi- waktu itu selalu terjadi ketegangan antara pribumi asli (disebut suku Melayu) dengan pendatang ( Suku Bugis). anak-anak Bugis sering mengindimidasi anak melayu. berantem gitu deh! karena aku muak melihat anak-anak Bugis yang sok jagoan, pernah aku membawa golok bokapku yang aku ambil dari tempat penyimpanannya untuk sekedar unjuk bela diri. setiap pulang sekolah aku bersama teman-teman melayu lainnya sepakat mengajak anak bugis sparing dilapangan bola-tempat orang2 kampung berlatih-yang tidak jauh dari sekolahan. perkelahian kecil terjadi satu lawan satu, tapi tidak sampai mengeluarkan golok yang tadi aku bawa karena musuh kami tidak bersenjata-lagian tadi hanya keisengan diriku-maklum anak kecilll...heheeey
itu terus terjadi, dan ngak tahu siapa kalah dan menang. karena setiap ada yang nangis baik pasukan melayu atau bugis langsung mengunakan jurus alternatif langkah seribu alias kabuuuur....
ya!hari-hari di sekolahku selalu bersitegang, hari na'as bagiku. kelabu yang mencekam. saat aku melewati belakang sekolahan dengan seorang diri. ternyata di situ ada pentolan bugis yang badannya besar, Kona' namanya. langsung dia menarik leherku dan memukulku mukaku yang imut (item mutlak). sebenarnya aku sempat melawan, tapi karena badannya memang terlalu besar untuk ukuran tubuhku yang semampai (semeter tidak samapai)hehee! setelah kejadiaa itu aku lari terbirit-birit dengan tangisan merdu, lantang (cengeng,,,,..banget)
Spontan aku langsung pulang kerumah - melapor kepada bokap- karena menurut tradisi yang aku ketahui orang tua disana selalu membela anaknya meskipun anaknya salah.tapi lain dengan bokapku, bukannya membela tapi dia marah besar dengan diriku yang lemah, cengeng dan pengecut. dia membentakkku "jangan pulang keumah kaluk nages, cepet kehane pulik lawan die. jangan takut, awas hekali-kali ,pulang keumah nages gara-gara betinju kala" (jangan pulang ke rumah kalau nangis, capat kesana lagi cari dan lawan. jangan takut.awas ya sekali-kali lagi pulang kerumah nangis karena berantem kalah). itulah pesan bokapku yang menjadi pelajaran berharga bagiku.
(Bersambung)
Sabtu, 02 Agustus 2008
Ne' jadi ape ngka nie

"Mentari tak lagi hagat/Air mati kesejukan/Es tak mampu dinginkan Ia/pun api tak kuasa membakarnya/karena Ia tanpa batas"
Sebuah Renungan!
Dialektika, segumpal kamuflase diriku yang yang terjerak ke lubang status quo-nya kehidupan. menjalar panjang ke utara-selatan, timur-barat, lalu bergerilya kesana-kemari, sebaliknya terus berotasi tanpa kenal lelah. Mimpi, ya mungkin hanya secercah mimpi manis sang rantauan kecil seperti diriku. senyum itu bayangi alur yang berbasis kedamaian, cinta dan berbagi kasih. kehidupan keras penuh duri, derita mungkin juga memhembuskan keringat darah yang amis bukan kepalang. sebuah desahan manis untuk semua yang telah menemaniku-doeloe-sekarang ini-kawan! kerasnya tanah rantauan yang ku tempuh, memberi arti kehidupan. meskipun kadang tak mau jua bersahabat serta angkuh memusuhi.
Saat termangu ria. terbesitlah hasrat yang selalu mengusik ketenangan, galau bercampur ambigu. cita-cita yang terus berkobar untuk membuat semua senang, semua riang gembira serta tertawa lepas tanpa beban. tapi mampukah khayalan itu terwujud? keganasan pikiranku penuh anarki. megerucut -klimaks pada satu titik kebahagiaan dan kesuksesan. tak terharapkan kegagalan yang menikam, penyesalan yang berat, tindakan super bodoh. jika itu terjadi.
Apakah sudah cukup, jika aku korek masa orientasi, adaptasi yang sekarang ku geluti. mencoba rakus, menyelam minat dan bakat demi eksistensi diri. tertelan jua rasa pahit, asin ,manis dan asam dalam separuh pencarian status diri ini. dambakan eksekusi di penghujung pencarian yang belum ending-nya.
Lidah yang berbusa dan kata yang berbisa menjadi motivator yang dasyat. apalagi itu terlahir kurang lebih 15 tahun yang lalu. kalimat yang terus aku ingat. "ne' jadi ape ngka nie" (mau jadi apa kamu nanti, bahasa bangka). ya kalimat yang tersusun dari lima kata itulah pemicunya. yang di cetuskan dang ketus oleh seorang Ibu (tetangga),koar nya dengan nada tinggi. Melabrak Joe kecil. Itu terjadi tatkala karena ulah nakalku yang konyol, berantem (berkelahi) dengan si cenggeng (anak tetangga). laki-laki kecil berbadan kurus berkolaborsi tinggi (udah kurus tinggi dan cenggeng lagi,heee) .
Kata tetangga tadi selalu jadi ingatan, agar aku bisa sadar siapa diri ini dan mau jadi apa nanti. hujatan berharga buat Joe ingusan pada saat itu. meskipun hanya lima kata yang disemaikan olehnya kepada Joe yang memang lucu dan lugu (sekarang juga masih kaleee,heee) , tapi bagiku itu semua bagai dicambuk dan mengeluarkan darah segarku yang masih perawan.
Kamis, 10 Juli 2008
Titik Jenuh

Tak bisa dipungkiri kadang kejenuhan datang jua menghampiri keceriaan setiap insan. dalam jenuh yang mengecewakan ku larikan diri dalam kesibukan yang bisa menghibur diri. eksistensi cukup berbuih meski sumbangsih untuk semua itu belum seberapa apa adanya. take n give, try n error sebuah penyemangat yang selalu tertuang saat kegusaran hadir menngelitik pendirian yang juga kadang luntur karena terlalu terfokus pada satu titik. saat titik yang bisa berubah menjadi apa saja. begitu juga keadaan sikap bisa berevolusi menjadi darah dan air mata, tawa terpaksa atau hanya sekedar senyum penghormatan menjadi jalan alternatif. beruntung ada yang bisa diajak berbagi meskipun itu belum optimal penyegar diri. kadang sikap seperti ini susah dikendalikan, dan orang bijaklah yang bisa mengatasi titik jenuh ini dengan lapang dada. itu pun masih diragukan implementasinya seperti apa?. tak ada kata terlambat jika berbuat yang terlambat hanya bagi yang tidak berbuat, begitu kata kokolot bijak.......!sebuah tulisan yang dimengerti oleh penulis saja...hehe!
" Segala sesuatu yang terpusat akan bergerak jika ditiup dengan kencang dari segala penjuru mata angin, kadang gerakan baru terejahlantahkan tatkala anarkis telah terjadi (seperti hak angket DPR, mengenai BBM) , jadi bergeraklah sebelum gerakan itu menyakitkan dan merugikan banyak pihak "
Selasa, 01 Juli 2008
(BBM) Beban Berat Masyarakat

Hiruk pikuk alunan di sekelilingku tampak sepi, hanya kokok wirok (tikus liar) yg memggema tat kala malam tiba...nyanyian masa silam masih terekam meski agak error. dalam coretan yg berbaur tanpa klimaks ini ku berharap bisa melepas beban yg ntah aku juga gak mengerti beban apa itu?hehe!ya, aku ingat...sebuah Beban yg akan di genggam oleh kaum Marhaen dan Proletar!beban berat akan menghampiri,atau memang selalu datang tiada akhir...Ironis!
ya...belakangan ini, santer diberitakan baik media cetak dan elektronik terusik untuk mengangkat aksi mahasiswa (24/06)yg lalu dalam aksi Penolakan kenaikan BBM, aksi solidaritas atas kematian mahasiswa UNAS,Rizal Ramly. asap ngebul di depan Gedung DPR, menumbangkan pagar dan merusak pembatas tol,juga membakar mobil flat merah....wow seram!!! itu belum seberapa saya pikir dengan menaikan harga BBM, pemerintah secara pelan-pelan menghunuskan pedang kesakitan kepada kaum marhaen, mengibar bendera penderitaan dan detik-detik malapetaka. mungkin imbas dari itu semua banyak!BBM naik rakyat tercekik,mati perlahan. Elpiji juga naik yg juga akan menghujam perut kaum proletar. kebijakan yg kata mereka rasional itu akan berimbas kepada menyusutkan hak hidup rakyat yg akan mati kekeringan gizi, busung lapar dan haus air bersih. BLT bukan solusi yg konkret Mister! andai aku jadi raja....hmmmm mimpi kaleee yeee....
smoga Para pengambil kebijakan peka dan masih punya nurani. BBM jangan hanya menjadi Beban Berat Masyarakat. Semoga saja!!!
Jumat, 30 Mei 2008
Blog "Tiri "Karena Waktu

sory bin maaf bgt klw dah lama enggk mengunjungimu, maklum banyak hal yg msti kulakukan dan byk alasan yg mesti diterangkan. kajian mingguan (baca: tiap mlm jumat) dan diskusi menanggapi kebijakan pemerintah menaikknan BBM ke tiga kalinya, kan dah pd tahu Social control itu perlu...hmmm!!! memperingati 100 thn Harkitnas dan 10 thn Reformasi jg merupakan alasan kealfaan yg sempat membuat blog ini basi, Pekan Penerimaan anggota Baru+ Kaderisasi Tingkat Dasar GMNI (24-25 Mei) jg hal yg trjd demi estafeta perjuangan kaum Marhaen. ini pun ku sempatkan karena kebetulan lg ngerjain tugas RTF (Radio TV dan Film) sebuh UTS (ujian tgh Smstr) yg dikrm lwt email. so ya ku smptkan jenguk blog ini. 30 mei-01 juni di LPM SiGMA lg-lg agenda yg tersetting sbgai penitia pekan literasi pelajar non fiksi....akhhhh apologi x ya!!
yg pnting kndala utamanya malesssssss!!!! biar waktu yg bicara!
"sekali layar terkembang pantang surut kebelakang"
Biar Gepeng gue tetap Banteng!!!hehe
Selasa, 15 April 2008
Aneh!

Dinginnya malam membawakan kakiku melangkahkan ke taman kota kawasan ciceri-Serang. seperti biasanya, ketika kejenuhan datang dan tatkala energi hampir terkuras, menyendiri itu hobi tambahanku disamping ngecengin temen-teman.
Malam itu entah mengapa sebuah kebingungan menyoroti pikiranku sebagai tunas bangsa dan manusia yang tentu membutuhkan kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis dan theologis. Ambigu pada pikiranku malam itu tanpa arah dan tujuaan. semua bergejolak pada satu titik yang mengelitik, tentang keanehan yang terjadi saat ini.
Aku semakin ragu untuk tuangkan sebuah issue. Ragu dengan yang mengatasnamakan cinta, damai dan kasih sayang! Ragu pada apa yang ada, pada semua yang nampak, ragu dan ragu!
Persetan ya persetan!
Senyuman palsu menakutkan, berjuta milyar kali ku tertipu. Tertipu oleh kemasan Narsis dengan motif tinggi. Sangat menyakinkan kepada siapa yang memandang, mendengarkan, pasti tergoda dan terpesona. Tapi di balik layar itu hanya bualan horor yang meyeramkan.
Bullshit!
Ingin ku enyahkan semua yang mesti dilenyapkan dari bumi, ku musnahkan dengan sekuat tenaga dan pikiran!mungkinkah Ku remuk kepalanya lalu ku masukkan dalam mesin penggiling timah agar otak kotornya raib dari peradaban yang memang semakin edan ini. Tapi aku ragu apakah perlu?
Heran aku dengan drama kehidupan yang semakin lucu dan geli. Lucu membuat senyum pahit. Sebuah legenda klasik dan cenderung klenik.
Boring !
Dengar cerita perang yang semakin dasyat tiada akhir. perang panjang yang takkan usai, perang yang terjadi terjadi dari zaman sejadah sampai zaman haram jadah (saat ini). Dan yang memuakkan lagi-lagi Motif perang hanya satu yaitu kekuasaan dan kekuasaan.
Bosen aku!menyaksikan mereka yang saling sikat, saling sikut, berebut kursi. bangsa aneh, Generasi aneh!hahaa….Aneh memang aneh! (15/04/08)
Selasa, 08 April 2008
Andrea dalam bayangan

Senyap kegagalan menghantuiku yang terus berjuang tanpa batas meski terbata-bata, kadang ku terlena dengan waktu yang sering kupermainkan dengan tak berarti. tapi juga ku berfikir menghayal itu perlu meski hanya gombalan penyemangat untuk hidup, menghibur diri sendiri. tak perduli meskipun khayalan itu kadang melampaui batas jangkauan.Jauh di sana orang tuaku menanti akan mimpi-mimpinku. Membangun kepribadian dalam pencapaian semua yang di cita-citakan. Ku kadang terpesona dengan mereka yang sukses. Terkenal dengan karya cipta yang bersumber dari keintelektualannya. Apalagi baru-baru ini sempat menjamur demam karya Andrea Hirata, seorang penulis Indonesia yang berasal dari pulau Belitong, propinsi Bangka Belitung yang bisamembuat orang berempati dengan sajian novel best sellernya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor.
Dia adalah satu dari orang-orang yang aku bilang top saat ini. Salut buat bang andrea.
Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi, astronomi--dan tentu saja sastra.
Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sungguh mengagumkan bagi ku sebagai pencari identitas diri, siapa aku dan kapan aku bisa menjadi aku-nya aku?
Mimpi-mimpiku kan ku semai dan kan kupersembahkan kepada mereka yang berjuang habis-habisan untuk ku.
kadang terlintas dalam pikiranku, takut ini semua kan sia-sia.
tulisan ini hanya bayanganku , dunia khayalku kepada mereka yang bisa menambah spiritku dalam melangkah dan berkarya.
Jumat, 04 April 2008
PERTENGAHAN JALAN “NEGERI ORANG”
Tulisan ini hanya sekedar menceritakan secuil kisahku, hidup di rantauan yang jauh dari sanak keluarga. memang semua ini harus memerlukan keberanian. berani bergaul dengan siapa saja, begitu pesan bapakku. jika sang rantauan tidak mau terlindas, tergilas oleh zaman (pribumi) sang Rantauan harus mampu mengolah emosi dan bisa jaga diri, yang tak kalah penting juga harus siap diri takut tiba-tiba di tilang Polisi (jika ada razia orang jelek).hehe
Enam tahun telah berlalu ku terdeportasi dari tanah kelahiranku (Tanjung Sangka-Bangka).Semenjak 2002 ku terdampar di pulau Jawa demi mereformasikan diri. Serang begitu kota yang sekarang ku injak (sebelumnya Tangerang, SMA) Banten. nomaden tempat ku bermukim berpindah dari kosan ke kosan. Beriringnya waktu akhirnya sampai juga ke kosan yang bisa di sebut sangat menyenangkan karena tiap bulan telat, ibu kosnnya gak pernah marah-marah,apalagi bawell (hanya cemberut doang n bibirnya tambah tebal 5cm…hehe).
Satu tahun lebih ku bermarkas di kontrakan (kosan) elite (dalam kaca mata Mahasiswa rantau) milik wong java, Sampono begitu nama sang pemilik Rumah, dia juga seorang produsen baso urat yang terkemuka di sumur Pecung-Serang. Cek-in di gedung putih banyak menyisakan cerita yang lucu.why di sebut gedung putih?(gedung tua kali) maybe semua lapisan ozon or catnya berwarna putih dan sampai-sampai yang nyenderin di temboknya ikut-ikutan terkontaminasi oleh keaslian warna si tembok.(lengget bro!!!)
Kosan unik yang juga kadang-kadang sering dikunjungi teman-teman, baik wanita maupun pria ini memang memiliki kisah unik yang bisa dijadikan dongeng buat dicerita ke anak-cucu. tentu cerita yang ghokil. Begini salah satu ceritanya:
Setiap akhir bulan (habis masa aktif) ibu kosan yang biasa dipanggil Bu Pono or nama kodenya BP (pemberian dari salah satu teman). Pemberian nama BP, terinspirasi pada stryker Timnas Merah-Putih, Bambang Pamungkas yang dipanggil “BP”
Aneh tapi ada, itulah yang terjadi, BP tak pernah Bete n Cape untuk bersilaturahmi tiap akhir bulan. Kadang membuat penghuni kosan gugup, gagap dan gagu.hehe…(mukanya sereem ya?) ya mungkin!salah satunya , maklum casingnya lumayan jadul sih,hehey.
Menjadi menarik di sini, ketika Rutinitasnya dalam berkunjung BP gak pernah absen membawa oleh-oleh or buah tangan yaitu ‘Struk Pembayaran Listrik’. Kesetiaannya membesuk gedung tua yang merupakan schedule time nya itu telah jadi kebanggaan tersendiri baginya, ( jelasnya enak di dia celaka bagi sang penghuni…) imbasnya tak tanggung-tanggung, masyarakat kosan ling-lung termasuk gue, coz gue sering (pernah) jadi tumbal pelecehan sang rentenir BP …(Di lecehin bagaimana?) maksudnya di tagih mendadak coz belum gradi resik menyiapkan jawababan yang tepat untuk berapologi ketika di tagih.hehey.
Ternyata teori stratifikasi sosial benar-benar terjadi di kalangan masyarakat (Mahasiswa), saat Ini. Tingkat strata buntuti jejak kehiduapan. Melihat fenomena di atas terlintas tatkala obrolan santai kami lakukan di kosan sambil ditemani rokok dan kopi (kadang-kadang susu). Dalam obrolan santai sedikit serius (kadang-kadang) pernah aku beranalogi bahwa dalam setiap kehidupan mempunyai masing strata “di atas langit pasti ada langit” begitu kata sangpenghibur (kata Bijak). Terlintas ketika melihat tingkatan pada manusia (khususnya di sekeliling Mahasiswa), lihat saja, dosen pasti takut sama ketua jurusan (Kajur), kajur takut pada Dekan, Dekan fear dengan Pembantu Rektor (Purek), Purek segan ama Rektor, Rektor hormat sama Menteri, Menteri patuh kepada Presiden n Presiden kiut pada Mahasiswa…..so mentok-mentoknya Mahasiswa Takut ama ibu kos, ya gak?
Sosok Ibu kos memang menyimpan misteri (misteri Ilahi kali) dan malapetaka seperti malaikat maut ( ketika belum inflasi). Tapi dia juga adalah Pahlawan lho (klo dia baik n enggak cerewet..hehe ). So carilah ibu kosan yang asik Kawan! Ibu Kosan yang lugu, demokratis dan kompromis. hehey
Itulah sekelumit kisah yang mungkin enggak penting bagi sebagian Orang dan ini hanyalah kesan penulis saja, goresan ini tercipta ketika rindu pada kampoeng halaman terus menghantui pikiran, maka menulis adalah jalan satu-satunya menyibukkan diri dan bisa dijadikan Obat penawar kerinduan. ‘Di pertengahan jalan negeri orang’.
19:30
04/04/08
Minggu, 30 Maret 2008
MAHASISWA RANTAU

MAHASISWA RANTAU
Mahasiswa rantau Makan tak teratur
Senen makan selasa puasa
Rabu ngutang e…kamis dibayar
Jumat lapar lagi, Sabtu makan lagi
Minggu ngutang lagi, Senen balik lagi
Rambut metal gondrong
Celananya bolong
Jarang makan apalagi jajan
Pacar tiada
Duitpun dah punya
Hutaang dimana-mana
Aku ini memang mahasiswa ripuh
Masuk kelas…(cret-cret)
Udah injure time
Datang telat pulang paling rajin
Ip jeblok nol koma lima
Kagak lulus-lulus
Udah tujuh belas tahun
Jadi macan kampus
Mahasiswa abadi
Abadi sekali...
(Pemuda Harapan Bangsa/PBH)
Lucu n ghokil mengawali tulisan ini, karena tulisan ini terinspirasi dengan lagu (syair) nakal diatas. Ketika ku dengar lagu diatas. Apalagi musiknya begitu jadul kayak zaman orde lama, ( kayak pernah hidup dizaman itu aja…)
** Kenapa lu JIL liat-liat, ko pergi…(Skip trouble coz si PINUM liat-liat gue ngetik, jadi takut coz mukanya lumayan jadul, sereem!!hehey)
Lanjut key…
Jengah, bosan, cape n bete’ mengikuti jejak langkah yang tak pasti, grogoti batang tubuh gue yang lumayan kasar kayak kulit badak ini. Banyak cerita , banyak kisah yang kadang sulit untuk dituangkan, hese diutarakan karena lisan tak mampu berucap ( gagu di buat-buat) dan body language melewati jalan buntu coz over dosis pada ‘body girls’ yang selalu meyita perhatian
Mahasiswa rantau memang tak luput dari kekurangan n kesederhanaan. kalau bahasa gaulnya balangsat (gue pribadi). Apalagi tanggal (bulan) tua seperti sekarang ini sebuah malapetaka yang menyiksa dan kalau bulan muda (janda kalie) datang sebuah mujizat yang begitu dasyat (itu juga kadang-kadang coy).
Telat kiriman itu rutinitas dalam catatan keseharian.kantong tipis itu udah enggak aneh lagi, tradisi yang sulit untuk dilenyapkan bahkan diminimalisirpun susah Kisah kasih anak rantauan juga banyak berbaur lucu (orangnya juga lucu kan?) gini-gini banyak juga lho yang suka (suka Nimpukin.).Sebenarnya ada kesan tersendiri bahkan jadi koleksi kehidupan yang akan menjadi documenter pribadi tentang ‘percintaan alah anak seberang‘ (Rantauan)
Sifat kerasku kadang lebur jika berhadapan dengan berhala yang bernama ‘kaum Hawa’.Aku berusaha untuk konsisten dan memfilter diri agar tak lupa pada pasir di pantai. Hanya satu kata “TAKUT”.Takut kebablasan tertipu pada lipstik merah yang menyingkirkan adam tatkala di surga tempo doeloe, biang permusuhan antara khabil dan habil serta jatuhnya kekuasaan napoleon sang singa eropa. Tapi betapa sengsaranya adam menjomblo bertahun-tahun sebelum tuhan berinisiatif menciptakan hawa, so hargai wanita (berapa sih harganya) “wanita dilahirkan bukan untuk disakitai tapi untuk dihargai, dicintai, disayangi dan dihormati”( kalau gak ada wanita mungkin gue gak terciptakan) terima kasih ibu yang telah berkolaborasi dengan bapak, banting tulang siang malam (jangan PIKTOR) sehingga terciptalah aku…hehey
Lanjut ke permasalahan mahasiswa rantau. Diperkirakan (menurut analisis penulis) Mahasiswa rantau itu Hutangnya di mana-mana (gue pribadi) tau gak, gue kalau kuliah males nulis tapi kalu nulis bon hutang rajin bannget, hehey!! saking rajin nulisnya di ‘file’ penuh dengan catatan hutang . hutang di kantin kampus, hutang di dekat areal kosan, di jalanan dan dimana lagi yaa jadi lupa. “Dan akupun lupa kapan aku lupa” ...(Nukil dari Puisi Syifa yang berjudul "LUPA" ), oya..!! pokoknya lengkap banget deh admiministrasi hutang-hutang gue ).
Ku ucapkan terima kasih kepada semua yang pernah gue hutangin, jangan kapok, nyantai aja entar gue ngutang lagi ok!! Hehey. Kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa. kalian selalu ada tatkala suka maupun duka, saat aku kelaparan saat boke menggerogoti kantong dan ketika perut ku yang agak buncit ini meringis kelaparan (tapi buncitnya bukan busung lapar bro..) perut gue kan perut tipe pejabat-pejabat gitu, liat aja pejabat-pejabat kalian pasti perutnya pada gede-gede, perut eksekutif , (Perut Rahasia illahi kaleee). Anak rantauan jangan malu ngutang ok. Ngutang itu lebiyh baik dari pada nyolong or merampok dan ini lebih terpuji (tapi kudu dibayar..hehey)
Dengan tulisan ini ku berharap bisa lepas, bebas tanpa batas ekspresikan semua keluh-kesah, sedih-seduh-sedan yang selalu “datang tak di undang, pergi tak diantar”..(kayak jaylangkung aja…) semua silih berganti ikuti roda nasib yang sudah ditentukan pada zaman azalali.
Thanx sobat (LBFC) ,
terima kasih SiGMA,
Trims GMNI
Kalian selalu menjadi inspirator dan motivatorku dalam bertindak.Memberi pembelajaran dan pengalaman tentang arti kehidupan. Arti sebuah perjuangan pengorbanan dan pengabdian. ‘Salam kompak selalu’(The End)
