Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2011

ALARM DARI MARTIR SONDANG


Seluruh Mata dunia terbelalak lebar baik dalam negeri maupun luar negeri, sepasang Mata tertuju kepada demonstran bernama Sondang Hutagalung. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno yang memilih membakar dirinya di depan Istana Negara (7/12) pukul 17.30 WIB. Akibat aksinya ia mengalami luka bakar sangat parah, hingga 98 persen. Setelah bertahan hidup selama 72 jam, Sabtu (10/12) pukul 17.50 Wib, Sondang meninggal dunia. Salut! Sesuatu aksi perlawanan yang revolusioner meski nyawa menjadi taruhan.
Aksi Bung Sondang secara tidak langsung menampar muka seluruh jagat aktivis yang berjuang setengah hati karena eksistensi untuk motif sesuatu. Sondang adalah martir perlawanan terhadap rezim kebablasan yang diciptakan oleh penguasa negeri yang digawangi Sosilo Bambang Yudhoyono. Sondang Hutagalung sejajar dengan Muhammed Bouazizi di Tunisia dan Chun Tae il Korea Selatan. Mereka menjadi aktor pemantik gerakan rakyat. Ekspresi dari sebuah kemarahan terhadap rezim dzolim.
Menurut Pandangan Politik Universitas Paramadina, Herdi Sahrasad, Sondang Hutagalung adalah pahlawan kemanusiaan dan keadilan dengan langkah bakar dirinya. Tindakan itu merupakan protes paling puncak atas ketidakadilan dan korupsi yang merajalela di bawah rezim SBY-Boediono.
Aksi revolusioner Koordinator Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia (HAMmurabi) Ini menjadi warning dan wake up call kepada seluruh anak bangsa untuk bangkit dan melawan terhadap penguasa yang sudah keluar jauh dari amanat Pancasila 1 Juni 1945 dan mandat Trisakti Bung Karno; Berdaulat di bidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan bermartabat di bidang kebudayaan.


Alarm Pengorbanan

Keberanian nekat dari Sondang Hotagalung menjadi “alarm perlawanan”, membakar spirit generasi muda untuk lebih progressif-revolusioner dengan membangun kekuatan massa aksi yang radikal dengan menggabungkan kekuatan rakyat demi tegaknya kemerdekaan yang seutuhnya. Negara kuat, tegas dan bebas dari intervensi negara asing merupakan sebuah cita-cita pendiri republik ini. Jangan sampai Indonesia menjadi negara bonekanya Amerika atau justru menjadi negara federasinya Amerika.
Semestinya, SBY selaku puncak penguasa negeri ini melakukan evaluasi diri dan sadar diri bahwa ia telah salah mengelola Negara maritim ini. Sungguh memalukan! Indonesia sebagai Negara maritim malah kalah di laut sendiri seperti kasus-kasus pencaplokan wilayah oleh Negara serumpun Malayasia. Korupsi merajalelea di semua lini, belum lagi sengketa Papua yang belum usai dan terkesan dibiarkan begitu saja.
Pengorbanan Sondang menjadi cambuk pelecut untuk seluruh penggiat gerakan untuk bersatu kepalkan tinju. Seperti kata mantan aktivis gerakan Budiman Sudjatmiko, perjuangan Sondang harus tetap dilanjutkan.
Alarm dari martir sodang sebagai alarm peringatan terhadap rezim saat ini. Alarm itu bergetar kencang dan berbunyi keras hingga menusuk telinga lalu menembus hati nurani untuk berkata bangga terhadap pengorbanannya yang luar biasa, dialah Soe Hock Gie masa kini. Alarm yang dibunyikan Sondang terus berbunyi dengan satu nada yang bergelora api semangat pembakaran jiwa bahwa: SBY HARUS TURUN!
Selamat jalan Anak Marhaen, kau begitu Merah semerah api yang menghabiskan tubuhmu. Yakinlah kau akan disambut haru oleh Pendiri Bangsa ini beserta aktivis Tragedi Trisakti 1998 yang dulu “merdeka” dari alam bangsa.

Jumat, 09 Desember 2011

KORUPSI PENYAKIT KRONIS PENGUASA



Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember setahun sekali diperingati. Tetapi Korupsi tak pernah surut, bahkan semakin menggerogoti moral para pemangku kebijakan pemerintahan. Menjelma menjadi budaya baru di negeri yang sudah 66 tahun lalu diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta. Sebuah budaya kebablasan yang keluar dari mandat fouding fathers.
Koruptor adalah pelaku tindak kriminal merampok uang negara yang tidak dibenarkan oleh konstitusi negara manapun di dunia. Virus korupsi terjangkit di semua kalangan negeri bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika ini baik itu kalangan “berdasi” maupun kalangan “berpeci” sekalipun. Kinerja para koruptor berjalan sistematis dan massif sehingga begitu sulit untuk dibasmi. Penyakit yang bernama korupsi di negeri gemah rifah loh jinawi belum mampu disembuhkan oleh tabib yang bernama penegak hukum karena obat pecegahannya belum ditemui walaupun orang nomor satu di Indonesia sering ngegombal siap berdiri di depan terkait komitmen pemberantasan korupsi. Tapi janji tetap tinggallah janji karena korupsi seperti “Anggur Merah” yang memabukkan penguasa hingga merambah ke sekitar pagar Istana, seperti di tiga Kementerian yang rawan korupsi yakni Kementerian Agama, Kemenakertrans serta Kementerian Koperasi dan UKM.
Korupsi merupakan penyakit kronis penguasa negeri ini yang menjarah uang rakyat secara sadis. Walaupun sudah ada lembaga-lembaga anti korupsi bentukan negara seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengawasi keuangan negara. Namun koruptor masih bisa mempengaruhi petugas bentukan negara itu untuk berkolusi. Koruptor setelah divonis langsung dibebaskan di kamar-kamar mewah penjara sambil menunggu remisi dengan fasilitas karaoke dan menyulap kamar penjara menjadi hotel berbintang serta bisa juga dihibur oleh wanita panggilan. Tidak hanya sampai disitu koruptorpun bahkan masih leluasa keluar rutan.
PPATK pimpinan M. Yusuf menemukan sedikitnya 10 Pegawai Negeri Sipil (PNS) berusia muda terlacak memiliki dana di rekening ratusan miliar rupiah. Sebuah ketidakwajaran yang membuat geram Pengamat ekonomi dan politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago sehingga mendesak instansi penegak hukum menindaklanjuti temuan PPATK tentang penyelewengan uang negara oleh PNS.

Lawan Koruptor

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Saldi Isra, mengungkapkan perlu penguatan hukum tindak pidana korupsi secara lebih sistematis. Ia menyatakan penguatan ini perlu terangkum dalam tingkatan undang-undang.
Korupsi yang menggurita di negeri ini bagaikan Jamur di musim hujan dan bergerak seperti badai, leluasa masuk ke semua ruangan, tak perduli Istana, ruang kerja DPR serta ruang kerja para hakim di Pengadilan. Pelaku korupsi terjadi di seluruh lembaga pengelola pemerintahan dari tingkat pusat menyebar ke daerah-daerah sehingga koruptor seperti manusia setengah dewa yang tak mudah ditangkap melebihi kesaktian Teroris. Karena Teroris lebih mudah dipatahkan oleh Densus 88 Anti Teror dan tak sedikit yang menjadi korban peluru, ditembak di tempat bahkan dihukum mati. Sedangkan koruptor selalu dibiarkan bernapas lega oleh oknum Penegak Hukum bernama “Densus 86”.
Melalui Hari Anti Korupsi sedunia yang setiap tahun diperingati, semestinya penegak hukum lebih progressif-revolusioner dalam melawan koruptor, baik koruptor kelas Teri maupun kelas Kakap dengan hukuman seberat-beratnya dan menjalankan vonis hukuman mati sesuai UU. 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Jangan sampai penegak hukum malah menghukum koruptor lebih rendah dari pencuri biji Kakao dan pencuri Ayam.
Menurut catatan Media Indonesia, sejak penerapan UU Pengadilan Tipikor sudah 40 terdakwa korupsi dibebaskan. Semestinya dibangunkan saja Kebun Koruptor yang serupa dengan kebun binatang sebagaiman usulan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Kebun Koruptor abisa menjadi tempat wisata alternatif keluarga di sepanjang akhir pekan (week end). Mudah-mudahan pelaku koruptor bisa jera. Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia!

Tulisan ini sudah dimuat di Banten Raya Post (10/12)

MENGGUGAT MIMPI KETUA KPK BARU


“Jangankan Sri Mulyani dan Boediono, saudara sayapun akan saya gantung jika Korupsi”
(Abraham Samad)

Abraham Samad terpilih sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggantikan Busyro Muqodas. Banyak harapan yang dipikul oleh Samad, apalagi dengan lantang ia mengatakan siap untuk mudur jika dalam jangka waktu satu tahun tidak bisa menyelesaikan kasus kelas kakap. Ketua KPK yang baru ini akan diuji integritasnya untuk menetapkan tersangka baru pada kasus skandal Wisma Atlet dan uji nyali berani menuntaskan kasus Century gate dan Rekening Gendut Polri yang hilang dari peredaran. Jika tidak demikian maka Abraham samad hanya menjelma menjadi sosok pemimpi saja dan bukan tipikal sosok pemimpin lembaga superbody yang semestinya menjadi “Ratu Adil” yang menakutkan para perampok uang negara.
KPK adalah lembaga besar, independen dan semestinya tidak terkontaminasi oleh “lingkaran setan” kekuasaan, sehingga tidak ada celah untuk perselingkuhan. KPK yang baru jangan hanya pandai bersilat lidah dengan curhat di media massa tertular pada penyakit seniornya dahulu yang pintar mengunakan politik “NATO” (No Action Talking Only).

Kekuasaan dan Koruptor

Hantu korupsi bergentayangan di mana-mana, dihampir seluruh lembaga pemerintahan. Dari istana, kementerian, DPR, DPRD, Kantor Gubernur, Bupati/Walikota hingga penegak hukum itu sendiri. Semua diakibatkan karena adanya “hubungan gelap” antara kekuasaan dan korupsi. Korupsi seperti siklus kehidupan yang tak pernah mati. Patah tumbuh hilang berganti. Entah pejabat publik siapa lagi besok yang terjerat korupsi dan menjadi Headline Media massa?
Survei KPK baru-baru ini melansir bahwa Tiga kementerian yang digawangi oleh “Bigboss Parpol” nilai integritasnya jeblok. Tiga kementerian itu adalah Kementerian Kemenakertrans (Muhaimin Iskandar), Kementerian Agama (Surya Darma Ali) dan Kementerian Koperasi dan UKM (Syarifudin Hasan) dan di tiga kementerian tersebut masih marak kasus suap. Semua itu harus segera ditindak lanjuti oleh KPK Pimpinan Abraham Samad, karena KPK bukanlah lembaga survei tapi lembaga Pemberantasan korupsi.
Ketua KPK Abraham Samad terpilih sudah umbar janji, dengan lantang dia mengatakan “Jangankan Sri Mulyani dan Boediono, saudara sayapun akan saya gantung jika Korupsi. Semua kasus besar kami prioritaskan dan akan dituntaskan kalau memenuhi syarat-syarat hukum untuk ditindak lanjuti.” Begitulah janji surga Ketua KPK baru.
Jika Bung Karno pernah berpesan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (JASMERAH)” maka jutaan rakyat jelata hari ini pun berharap kepada Ketua KPK “Jangan sekali-kali benamkan kasus (JASBEKAS)” seperti kasus Century, Mafia Pemilu, IT KPU, Mafia Pajak, Mafia Anggaran (Banggar DPR), Kasus Rekening Gendut Polri, Kasus Menakertrans, dll.
Ketua KPK jangan tebang pilih dalam menyelesaikan Kasus korupsi di Indonesia, kita tunggu kiprah mimpi Abraham Samad, siapakah yang menang diakhir episode. Mampukah Abraham Samad berdiri kokoh tanpa terkontaminasi dari kepentingan penguasa? Atau justru mengikuti jejak seniornya. Busyro Muqodas yang terkesan politik balas budi kepada SBY Sehingga kinerja KPK yang ekstra hati-hati dan takut menyentuh kekuasaan pada saat orang nomor satu di Indonesia ini disebut oleh Nazaruddin dan spontanitas KPK menyetopnya.
Semoga buah baru bernama Abraham Samad bukan satu dari sejumlah buah busuk yang ada diantara buah berkulit bagus di pohon KPK yang selalu disiram dan dipupuk oleh kepentingan penguasa dan KPK tak berubah makna menjadi Komisi Pemberantas Kejujuran.
Selamat dan sukses Abraham Samad, selamat bertugas tangan-tangan keadilan!

Tulisan ini sudah dimuat di Banten Raya Post, 6 Desember 2011

Kamis, 27 Oktober 2011

PEMUDA GENERASI ORGANIK




Pemuda harapan bangsa, sebuah kalimat klasik yang sering terdengar jika membahas tentang pemuda. Revolusi Indonesia yang bisa menjungkarbalikkan penjajah jiga tidak lepasa dari peran pemuda pada saat itu seperti Pemuda Tanmalaka, Bung Karno, Hatta, Sjahrir dan sebagainya demi kemerdekaan Republik Indonesia.

Bung Karno mengatakan “Berikan padaku Sepuluh Pemuda maka akan aku goncangkan dunia.” Sebuah kata yang menukik bahwa pemuda memiliki peran yang penting untuk kemajuan bangsanya tentunya Pemuda yang revolusioner dan berkarakter kerakyatan.
Hingga kini sumpah pemuda di peringati sejak tahun 1957 pada saat gejolak bangsa bergolak karena pada saat itu terjadinya pemberontakan PPRI/Permesta dan akhirnya dengan semangat keindonesiaan Permesta dapat ditumpas. Saat ini loyalitas pemuda untuk bangsa diuji kembali ketika gejolak Papua baru-baru ini bergolak kembali, ancaman disintegrasi bangsa berkobar sehingga sumpah pemuda menjadi renungan dan jawaban untuk mempertahankan persatuan keindonesiaan.

Sekilas Sejarah
Delapan Puluh Tiga Tahun Silam, 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop (Gedung Batavia) terjadilah Sumpah Pemuda, yaitu ketika berkumpulnya organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon dan jong-jong lainnya.

Peristiwa paling penting dan di ingat sejarah gerakan nasional pada saat pengucapan satu sumpah yang khidmat untuk setia dan mengabdi kepada satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman kemudian dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

Pemuda Organik
Sebelum peristiwa 28 Oktober 1928 berkobar, terdapat Tiga organisasi memakai nama Indonesia yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dideklarasikan di Bandung pada 4 Juli 1927. Pada tahun yang sama (1927) Pelajar Indonesia di negeri Belanda Indische Veriniging pun berubah menjadi Perhimpunan Indonesia, dan Perserikatan Komunis Hindia-Belanda mengadakan Kongres di Jakarta (Juni 1924) yang juga berubah menjadia Partai Komunis Indonesia. PNI Soekarno mencanangkan tahun sebuah propoganda politik melawan imperialisme, ia tak hanya turun ke daerah untuk menggalang dukungan tapi juga menerbitkan majalah “Persatuan Indonesia” pada 1928. Mereka itulah pemuda organik bangsa yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Pemuda organik yang penulis maksud adalah pemuda yang dapat meleburkan diri ke dalam problematika bangsa dan membangun jembatan anatara “theori” dan “praktek” untuk memajukan masyarakat, hanya pemuda organik yang dapat menjadi revolusioner.

Menurut Pramoedya Ananta Toer, angkatan muda harus punya keberanian, kalau tak punya sama saja dengan ternak yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri. Pemuda Indonesia, mau tidak mua harus menjadi generasi muda yang cinta terhadap budaya bangsa Indonesia. Bukan malah bangga dengan budaya Amerika (penjajah peradaban). Biarkanlah budaya barat (Amerika) itu menjadi budayanya sendiri ketika ditemukan Columbus yang menghancurkan peradaban Indian (seperti Inggris yang menghancurkan peradaban Aborigin).

Bangkitlah Pemuda Indonesia!
Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Tulisan ini sudah dimuat di Baraya post pada 28/10/2011
* Penulis Adalah Ketua GMNI Serang 2010-2012

Selasa, 09 Agustus 2011

PEMBANGKANGAN BELUM SELESAI!


‘’Pembangkangan belum selesai/Pemberontakan tak kan usai...”
Dua kalimat pembangkit spirit untuk selalu meneriakkan aspirasi atas nama penderitaan rakyat, menggalang aksi massa melalui gerakan moral dan gerakan intelektual agar kemerdekaan tak hanya merupakan simbol tahunan yang setiap tanggal 17 Agustus diperingatkan secara seremonial.
Tulisan ini yang bertema “Pembangkangan” ini semata-mata terinspirasi dari Pidato Bung Karno pada Pidato HUT Proklamasi, 1956 "Berilah isi kepada kehidupanmu" kutegaskan: "Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusloner .... jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan..." kita adalah "fighting nation" yang tidak mengenal "yourney's end".
Ironis! Parpol yang konon berpaham nasionalis dengan jargon kerakyatan terntaya juga tidak mampu membendung ‘rayauan pulau kelapa nekolim’ bahkan malah menjelma menjadi “babu penguasa”. Para nasionalis gadungan tersebut berjama’ah menghisap rakyat jelata dengan politik konspirasi untuk meneruskan penderitaan rakyat. Sementara mantan aktivis yang dulu menjadi ‘hantu penguasa’ malah asyik duduk manis di bawah penderitaan kaum marhaen yang sekarang mereka lupakan.
Pun para Ketua Organisasi kemahasiswaan di pusat malah mendadak eksklusif dan mengikuti jejak senior-senior (Alumni) yang sekarang hebat menjadi ‘kuda lumping senayan’ atau “koboy pemerintah daerah”. Wajar saja jika konsolidasi gerakan hanya sebatas retorika. ‘No Action Talking Only’ Nato!!!
Padahal jauh-jauh hari Bung Karno, selaku founding father berpesan "Laksana Malaikat yang menyerbu dari langit", jalannya Revolusi kita kutandaskan perlunya dilaksanakan "Landreform", perlunya dikonsolidasikan segenap kekuatan untuk menghadapi imperialis-kolonialis.[Pidato HUT Proklamasi, 1960]
Akhirnya tulisan yang penuh amarah ini Penulis tutup dengan mengutif perkataan Wiji Tukul, Aktivis Buruh yang hilang tak berjejak itu: “...Jika penguasa ibarat tembok, maka aku adalah rumput liar yang selalu tumbuh di tembok tersebut...”
perjuangan harus tetap ada, terlebih-lebih kader gerakan!
Salam Pebangkangan!

Kamis, 21 Juli 2011

Partai Politik Sarang Koruptor


Belakangan ini marak diberitakan oleh media massa tentang korupsi yang melibatkan tokoh partai politik. Korupsi memang telah menjadi budaya yang mewabah di negara ini, baik di tingkat nasional maupun daerah. Sehingga wajar kampanye Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui stikernya bertuliskan “Awas! Bahaya Laten Korupsi.”
Kehangatan berita korupsi menjadi berita yang paling seksi di negeri ini meskipun sebenarnya hanya segelintir saja yang dikupas secara terang benderang. Sebut saja ‘skandal suap bersatu’ pada pemilihan Gubernur Senior BI, Miranda Gultom yang melibatkan politisi PDI Perjuangan. Juga sekarang santer diberitakan yang membelalakkan berjuta pasang Mata dan mengerutkan Dahi ketika awak media memberitakan skandal suap pada proyek pembangunan Wisma Atlet Sea Game Jaka Baring-Palembang yang memangkas dana sebesar Rp. 191 miliar.
Menariknya, ada parpol pemenang pemilu 2009 bermain di sana, sebuah parpol yang sangat dekat dengan Istana negara disebut-sebut menjadi pemeran utamanya. Bendahara Partai Demokrat, M Nazaruddin namanya melejit bagaikan artis papan atas yang lagi naik daun. Apalagi kasus ini dibumbui episode debat antar para politisi Demokrat itu sendiri yang memaksa SBY Selaku Dewan Pembina Parpol tersebut melakukan ‘atraksi marah-marah’. SBY yang juga Presiden RI itu semestinya malu dan segera meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, karena komitmennya memberantas korupsi benar-benar gagal dan hanya menjadi program halusinasi. Lebih parah lagi karena korupsi itu malah terjadi di teras partai pengusung sang Presiden sendiri. Ulah kader partai Demokrat yang menjadi pemain suap secara tidak langsung telah ‘menampar birukan bibir’ SBY. Ironis! Nazaruddinpun minggat ke luar negeri.
Menurut pengamat Politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanudin bahwa pemburu rente oleh partai politik nyaris terjadi di semua partai. “Partai lainpun seperti golkar akan kena Imbasnya. Partai PKS, PAN dan lain-lain kan sudah kena juga”. Stetment Burhanudin menjadi kata kunci penulis untuk tegas mengatakan bobroknya mental penggiat partai politik negeri ini. Karena melahirkan sistem pemburu rente yang menghisap kekayaan negara.

Quo Vadis
Partai politik (Parpol) bukan saja melahirkan dan menciptakan sistem yang korup tapi juga kelompok yang memberikan kontibusi besar terhadap pragmatisme dan praktek jual beli bangsa karena habitat parpol bercokol orang-orang yang haus akan kekuasaan, menumbalkan apapun dan dengan cara apapun demi terciptanya tahta kekuasaan.
Menurut Carl Friedrich, sebuah partai politik merupakan sekelompok manusia yang terorganisir yang stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan pemerintah bagi pimpinan partai dan berdasarkan penguasaan ini akan memberikan manfaat bagi anggota partainya, baik idealisme maupun kekayaan material serta perkembangan lainnya. Jadi wajarlah jika parpol di Indonesia cenderung melahirkan politisi bandit yang doyan menghalalkan kekuatan politik yang bisa dimanfaatkan demi merebut dan mempertahankan kekuasaan infra struktur politik. oportunis dan pragmatis!
Tapi yang mengherankan parpol di negeri ini malah tampak ada ketika menjelang pesta demokrasi. Rakyat disajikan dengan slogan-slogan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan yang seolah-olah merupakan ciri perjuangan parpol tersebut. Kemudian rakyat digiring, dipakaikan kaos berlambang parpol berikut jargonnya. Lalu rakyat dipaksa bersorak tepuk tangan menjadi suporter dan akhirnya memilih sang jagoan saat berada di kamar TPS (Tempat Pemilihan Suara). Mirisnya, setelah parpol tersebut menang rakyat tetap masih menjadi keranjang sampah, sesekali menahan lapar dan melirik dapur yang memang tak ngebul secara lancar.
Pendidikan politik kepada rakyat mampet tersendat, karena memang tak ada pendidikan politik yang dilakukan oleh seluruh parpol di Indonesia. Padahal pendidikan politik sangatlah urgen dalam negara yang notabene penganut paham demokrasi. Parpol idealnya menjalankan program untuk kesejahterakan rakyat dengan kekuatan politik yang diamanatkan oleh rakyat. Terlebih parpol pemenang pemilu. Tapi ini justru malah sebaliknya yang terjadi, partai politik (baik pemenang maupun pecundang) malah semuanya bersatu menjelma menjadi pemburu rente. Berdiri di rel kekuatan politik masing-masing untuk melakukan kerja politik mengeruk kekayaan bangsa, korupsi secara sistematis dan massif dengan mengatasnamakan nasional interest (kepentingan rakyat banyak). Quo Vadis partai politik di negeri ini!

Anti Parpol
Parpol hanya siap melakukan dan membangun kekuasaan tapi tidak pernah siap membangun masyarakat pada tingkat penyadaran peruntukan kekuasaan itu sendiri. Jadi perubahan bangsa yang sesungguhnya harus berhadapan dengan parpol dan anti parpol karena parpol apapun nama, warna, lambang dan ideologinya tidak akan pernah menjadi solusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kembali ke jati diri bangsa, kembali menjadi bangsa indonesia yang sebenar-benarnya tanpa partai politik!





Penulis adalah Ketua DPC GMNI Serang
(Sudah Dimuat di BARAYAPOST, 4 Juni 2011)

Sabtu, 02 Juli 2011

PANCASILA Adalah MARHAENISME dan MARHAENISME Adalah PANCASILA*


Dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno dalam pidatonya yang khusus menjawab pertanyaan Ketua BPUPKI mengenai apa itu filosofie groundslag atau dasr negara dari Indonesia yang akan dimerdekakan itu, menawarkan lima prinsip groundlag terdiri dari:

a. Nasionalisme;
b. Internasionalisme/humanisme
c. Demokrasi;
d. Keadilan;
e. Dan ke-Tuhanan...

Kelima prinsip yang ditawarkan oleh Bung Karno itu disebut jua PANCASILA.
Bung Karno juga menawarkan alternatif berikut, bahwa kelima rumusan itu juga masih bisa disederhanakan lagi, menjadi cukup tiga prinsip saja, yaitu:

a. Sosio-nasionalisme (gabungan pemadatan nasionalisme dangan internasionalisme);
b. Sosio-demokrasi (gabungan demokrasi politik dengan demokrasi ekonomi), dan
c. Berketuhanan Yang Maha Esa.

Ketiga prinsip itu oleh Bung Karno disebut juga sebagai TRISILA yang notabene sesungguhnya itu merupakan formulasi terbaru dari MARHAENISME sebagai hasil perenungan Bung Karno dan kemudian menjadi asas perjuangan organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Bahkan semua perenungan itu (baik yang versi 5 prinsip maupun 3 prinsip) oleh Bung Karno juga masih bisa diringkas lebih padat lagi menjadi satu prinsip UTUH kebersamaan, yaitu: GOTONG ROYONG atau disebut EKASILA.
Tawaran Bung Karno itu ternyata diterima aklamasi oleh seluruh anggota BPUPKI, baik itu kalangan yang mewakili golongan Islam maupun yang mewakili golongan nasionalis.


*Disampaikan pada saat Kajian Routin Wahana Institut (WI), 4 Juli 2011

Jumat, 04 Maret 2011

PSSI Versus MENPORA


Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) seyogyanya adalah Organisasi tertinggi yang menjadi kebanggaan penikmat sepak bola nasional. Namun kenyataannya berbalik karena krisis prestasi pesebakbolaan Indonesia yang kian miris di bawah pimpinan Nurdin Halid membuat para pencinta Sepak Bola Indonesia berang melihat Timnas Muda (U23) dan Timnas Senior masih belum bisa membuat penonton tersenyum bangga. Sebuah krisis prestasi yang berujung sakaratul maut!
Di ajang AFF, Timnas Senior belum pernah mengecap juara, bahkan harus pasrah dipermalukan oleh Malaysia di final pada akhir 2010 lalu meskipun tidak terlepas dari perjuangan pemain naturalisasi. Februari 2011 stadion Jaka Baring Palembang menjadi saksi abadi kekelahan Timnas Garuda (U23) pada praolimpiade yang harus puas dicukur tim tamu. Ada apa dengan PSSI? Human error atau Sistem error? Kerinduan masyarakat Indonesia sudah sangat berkarat, penantian prestasi Timnas Garuda kebanggaan yang tak kunjung datang. Karena taksa dipungkiri Sepak Bola merupakan olahraga rakyat yang tidak akan ada mati-matinya di Negeri ini. Dan tidak mengherankan jika Suporter Indonesia terkenal paling fanatik di Dunia melebihi Suporter Inggris.
Beberapa hari ini marak di dunia massa menyoroti aksi Suporter sepak bola yang berunjuk rasa di berbagai daerah menuntut Revolusi PSSI dengan menjungkal Nurdin Halid walalupun ini bukan aksi yang pertama kalinya. Gelombang aksi makin memanas dengan bumbu-bumbu pro-kontra terhadap Ketua PSSI dua periode tersebut. Akibatnya juga fatal terjadi bentrok dua kubu pro-kontra seperti yang terjadi di Makasar dan Jakarta. Fenomena latah dari Revolusi Mesir dan Libya yang bentrok antara pro dan kontra?

Pamer Kekuasaan
Gelombang aksi ribuan Suporter yang menuntut Nurdin Halid turun dari kursi ketua PSSI cukup sporadis setelah tim verifikasi PSSI mengumumkan dua calon ketua PSSI yang lolos seleksi, Nurdin Halid dan Nirwan Bakri. Tim verifikasi mantap mendiskualifikasikan dua pesaing Nurdin, George Toisutta dan Arifin Panigoro yang berbuntut banding. Percikan api dari komite pemilihan ketua PSSI itulah memancing kemarahan ribuan pecinta sepak bola Indonesia. Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng ikut bernyanyi dengan lagu intervensi menyerukan koreksi terhadap hasil verifikasi komite pemilihan PSSI dan mengancam akan memberikan sanksi jika tegurannya itu tidak diindahkan. Padahal jelas menurut ketua komite Banding, Tjipta Lesmana, Stetment Menpora telah melanggar Statuta FIFA yang melarang setiap bentuk intervensi dan campur tangan pemerintah. Komite Bandingpun merasa tertekan dengan intervensi Menpora. Akhirnya Komite Banding mengagetkan seluruh pencinta sepak bola nasional dengan keputusan menolak banding George Toisutta dan Arifin Panigoro serta menganulir Nurdin Halid dan Nirwan Bakri sebagai calon ketua PSSI. Sebuah keputusan yang terkesan tanpa solusi konkret.
Polemik Pro-Konta PSSI versus Menpora menjadi isu seksi yang tak bisa dilewatkan. Ketua DPR Marjuki Ali turut menanggapi kontroversi PSSI, menurut Marjuki PSSI harus lebih terbuka karena PSSI bukan milik partai politik dan PSSI merupakan ruang publik non partisan.
Perseteruan antara PSSI versus Menpora bukan konflik spesial yang pro terhadap revolusi Sepak Bola Indonesia. Perseteruan ini hanya sebatas adu gengsi pamer kekuasaan antara dua kubu rezim. Keduanya masing-masing mempunyai dua warna dominan “Si Kuning dan Si Biru” yang memang terlihat kurang harmonis pasca adu otak di paripurna mafia pajak. Politisasi benar-benar merambah ke berbagai penjuru!

Revolusi PSSI
Nurdin Halid merupakan sosok kontroversi.Mantan Manajer PSM Makasar ini pernah tersandung pidana korupsi yang ‘memaksa’ ia memimpin PSSI dari balik jeruji pada tahun 2003 sampai 2005. Nurdin figur yang super kebal terhadap kecaman,, ia tetap tegak berdiri dalam naungan panji-panji PSSI. Belum ada tanda-tandanya untuk turun dari tahta PSSI. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa dalam kepemimpinannya Sepak Bola Indonesia miskin prestasi. Kader Golkar satu ini benar-benar pantang mundur bahkan ia berdalih bahwa aksi Suporter yang mengecam dirinya itu salah sasaran. Tak ayal Bos Golkar, Aburizal Bakripun unjuk bicara dan siap memberi dukungan kepada kadernya yang menurutnya sekarang terzolimi.
Isu Revolusi PSSI dari ribuan Suporter Indonesia adalah suatu yang mutlak bertujuan untuk melakukan perubahan-perubahan luas dan mendasar dalam hal struktur, sikap dan prilaku individu di dalam organisasi PSSI. Itulah yang menjadi tuntutan bersama para suporter pecinta sepak bola Indonesia. Sepak Bola Indonesia akan maju jika secara berkala PSSI mendidik bibit-bibit pemain muda dengan cara kompetisi, dan pembinaan pemain berbakat secara periodik serta didukung oleh perangkat pengurus yang benar-benar berupaya untuk memajukan Sepak Bola nasional.
Delapan tahun sudah Nurdin Halid menjadi ketua umum PSSI, layaknya cukup sudah manusia super kontroversi itu memimpin PSSI melihat kinerja, sepakterjang sang ketua yang selalu tak memenuhi target alias Gagal...! tidak ada prestasi, miskin gelar dan jauh dari kebangggan. Garuda tetap didadaku!




Penulis Adalah Ketua DPC GMNI SERANG
Penikmat Sepak Bola Indonesia,
(Artikel ini sudah dimuat di Baraya Post,2 Maret 2011 )

Jumat, 14 Januari 2011

Tragedi MALARI, Peringatan Sejarah

“Mahasiswa sejati adalah mahasiswa yang progressif-revolusioner, mahasiswa sejati adalah mahasiswa yang menyuarakan suara rakyat.” (Bung Karno)
Hari ini (15/1), 37 tahun yang silam, terjadi Peristiwa Malari (Malapetaka Januari) yang dilukiskan oleh sejarawan Australia M.C. Ricklefs sebagai "salah satu huru-hara paling buruk di ibu kota sejak jatuhnya Soekarno".
Pada 37 tahun yang lalu, di awal pemerintahan Soeharto, tepatnya pada tanggal 15 Januari 1974, mahasiswa menunjukkan keprihatinan atas kondisi perekonomian bangsa. Penanaman Modal Asing (PMA) sangat berlebihan sehingga investor asing sangat mendominasi perekonomian bangsa. Puncaknya adalah dengan peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari 1974 (Malari), ketika Hariman Siregar sebagai ketua Dewan Mahasiswa UI (1973-1974) memimpin aksi pengepungan di Bandara Halim Perdana Kusuma. Peristiwa itu sebagai bentuk penyambutan kedatangan PM Jepang Tanaka Kakukei yang berkunjung pada 14-17 Januari ke Indonesia.
Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.
Malapetaka 15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.
Semoga sejarah Tragedi paling parah pasca lengsernya Bung Karno itu bisa memberi sedikit peringatan kepada rezim pemerintah pusat dan rezim pemerintah daerah untuk lebih ‘waspada’ atau ‘stop’ menjalankan Virus Drakula Neolib yang menghisap darah segar rakyat pribumi itu. Karena sejarah mungkin berulang!
Keberanian aktivis Hariman Siregar, dkk merangsang libido spirit gerakan untuk lebih progressif-revolusioner agar mahasiswa sebagai agent of change dan agent of social control tak hanya menjadi jargon belaka.
Merdeka!

Jumat, 28 Mei 2010

Lama Tak Jumpa!

Sudah lama aku tak berkunjung di blog yang aneh ini...
benar-benar kangen untuk menumpahkan unek dan duri di belenggu rantauan yang kian panas dan keras...
dan tak terasa akupun telah menginjak semester 10,,huhuyyyy
dan telah banyak aku bergerilya dalam gerakan keras dunia rantauan dan organisasi yang aku geluti...semoga pengabdian ini akan terasa maniesss....

Jumat, 30 Oktober 2009

Pemuda Dalam Spirit Gotong Royong



Oleh Joe Marhaendra

Pemuda merupakan tonggak sejarah yang terus menjadi sorotan dari zaman ke zaman. Terbukti 28 Oktober 1928 adalah gaung pemuda yang menjadi saksi sejarah. Sekedar pleidoskop, ketika itu pemuda atas nama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) bersama Jong Java, Jong Sumatra dan Jong-Jong lainnya, bertemu di Oost-Java bioscoop Jakarta. Lalu ending dari spirit gotong royong pemuda saat itu terciptalah trisula sakti yang terkenal dangan ‘Sumpah Pemuda’. “Mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bertanah-air yang satu, tanah-air Indonesia. dan mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Romantisme sejarah hingga saat ini terus menjadi kisah emas yang patut dikaji melihat pemuda terus berpacu dari masa ke masa sampai-sampai Founding Father menempatkan pemuda pada kelas yang dominan, "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia." Itulah ungkapan Bung Karno yang menggambarkarkan pemuda sebagai aktor kekuatan perubahan.
Spirit Gotong Royong
Gotong royong adalah pengejawantahan tiga ajaran Bung karno yang populer di sebut Trisila, yaitu Sosionasionalisme (gabungan pemadatan nasionalisme dengan internasionalisme), Sosiodemokrasi (gabungan demokrasi politik dengan demokrasi ekonomi), dan ke-Tuhanan.
Dewasa ini meski terkesan berkompetisi, tapi spirit pemuda masih bisa dipatahkan sehingga pemuda kadang kala harus sabar menyusu lagi karena gesekan senioritas (kaum tua) bagai gurita menakutkan yang siap menggoncang sendi idealisme.
Pemuda saat ini cenderung lebih konsumtif dibandingkan dengan pemuda zaman dulu yang terlihat produktif. Akhirnya spirit Gotong Royong ajaran Bung Karno hanya menjadi pusaka sejarah yang kusam. kata-kata pemuda yang benar-benar menjadi sentral perubahan itu hanya retorika penuh ilusi. (28/10/2009)

Rabu, 01 Juli 2009

DILANJUTKAN DENGAN LEBIH CEPAT-LEBIH BAIK DEMI PRO RAKYAT


Oleh Joe Siregar

Tiga Punggawa ksatria akan menjadi raja di Negeri yang penuh luka dan air mata. Negeri yang selalu terusik dan dipermainkan oleh pihak asing yang merongrong kedaulatan NKRI. Cerita ini memang cerita lama, tapi kisahnya tetap menggila dan membuat hati mengharu-biru. Nasionalisme bercampur Fanatisme saat mendengar Negeri ini diolok-olok, menyaksikan bangsa ini tak punya nyali. Wahai para kandidat tunjukkan pada rakyat dan dunia jika kalian memang para pemberani. Berani membela bangsa dan rakyatmu.

Malaysia, Apa Mau mu?
Ganyang Malaysia! Kata-kata warisan Singa Podium, panglima besar sekaligus penyambung lidah rakyat Indonesia, Bung Karno itu begitu melekat jika Indonesia berhadapan dengan negara Malaysia. dari konflik yang berhubungan dengan kedaulatan bangsa sampai konflik penyiksaan pembantu rumah tangga asal WNI oleh rumpun melayu satu ini. Apa sih yang mereka inginkan? Perang apa diplomasi?
Masih ingat, Reog Ponorogo, Batik dan aneka seni lainnya mereka klaim milik dan asli dari negara mereka. Ambalad memang sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, menjadi incaran dari masa ke masa. Ejekan demi ejekan mereka lancarkan dengan masuknya kapal perang disepanjang pulau Ambalad. Itu merupakan pukulan telak bagi kedaulatan NKRI. Tapi bangsa kita tetap santai, pemerintah kita seolah-olah tak ambil pusing. Sibuk tebar pesona, sibuk “Jual Indomie” dan menabuh janji. Terlalu sibuk tokoh bangsa beretorika ‘dilanjutkan dengan lebih cepat-lebih baik demi pro rakyat’. Belum ada ketegasan dari mereka yang mengaku hero itu seperti yang dulu diteriakkan oleh founding father, Ganyang Malaysia!

Catatan Penyiksaan WNI
Terlalu banyak penderitaan warga Indonesia yang telah dilecehkan oleh warga negeri Jiran tersebut kepada WNI. Sebut saja Nirmala Bonat (Mei 2004) pembantu asal NTT itu nekat kabur karena tak tahan disiksa majikannya, bayangkan! badannya penuh luka, kulitnya lebam dan bengkak bekas disetrika. Sadis!
Di tahun 2007 banyak lagi korban kebiadaban pembantu rumah tangga asal Indonesia yang disiksa,disetrika, disiram larutan pemutih pakaian, gaji tidak dibayar, diancam dibunuh dan ada yang sampai tewas mengenaskan seperti Kurniasih (16/8) , wanita asal Demak -Jateng. Ceriyati (16/6), wanita asal Brebes yang nekat turun dari lantai 15 sebuah Apartemen ternama di Kuala Lumpur, mengunakan untaian baju dan kain. Parsiti (13/8) asal Wonosobo melarikan diri dari lantai 17 Apartemen. Maryati (02/9) asal Palembang dan Fiktoria Usnaat (22/10). Di tahun 2008, Indonesia dikejutkan dengan tewasnya Siti Fathonah, asal cilacap, Jateng yang tewas ditangan majikannya pada 12 September. Di pertengahan tahun 2009 ternyata masih saja WNI teraniaya, Siti Hajar (08/6) wanita asal Garut-Jabar ini melarikan diri karena tak tahan jadi “makanan empuk” majikannya dan 34 bulan gajinya belum dibayar. Sungguh tragis! 25 Juni yang lalu, Modesta Rengga Kaka (26) yang terus-menerus disiksa oleh bos biadabnya setelah kemudian diselamatkan polisi setelah mendapat laporan dari tetangganya karena tak tega melihat ia disiksa untuk berdiri di tengah malam saat hujan lebat. 19 bulan gajinya belum dibayar. Sungguh hebat kau Malaysia! Ringan tangan dan sungguh biadab. Tak berprikemanusiaan!
Kita hanya bisa menyaksikan perih dan tragis melihat kenyataan yang menimpa saudara-saudara kita setanah air diperlakukan seperti boneka. Semoga pemerintah kita tidak seperti boneka yang hanya diam membisu. Semoga pemimpin kita menjelma seperti manusia setengah Dewa yang benar-benar tidak lamban dalam urusan penderitaan rakyat. Apa mesti kita lanjutkan? Atau lebih cepat lebih baik? Atau justru pilih yang pro rakyat?

Sabtu, 20 Juni 2009

Jangan Malu Hanya Baru Jadi Pembaca

Oleh Joe Siregar

“Kita hidup dalam peradaban otak, bukan hidup dalam pradaban otot,” slogan yang saya baca diwebsite persatuan pers mahasiswa Indonesia, kata-kata itulah yang membuat darah muda saya bergetar. Ternyata otak lebih menang ketimbang otot dan saatnya perang dengan pemikiran. bukti terbaru manusia aneh Limbad, Sang Pesulap yang mengandalkan Otot tersisihkan oleh Joe Sandy yang hanya mengandalkan logika pada tayangan salah satu program TV Swasta yang memperebutkan gelar The Master.
Simpan golokmu!asah penamu! juga sangat fenomenal di telinga penggiat kuli tinta ‘memaksa’ untuk menyiapkan segudang amunisi argumentasi. Tulisan di lawan dengan tulisan, argumentasi ditendang dengan argumentasi. Hal itu pernah dilakukan oleh Bung Karno dan M. Natsir sebelum Indonesia diproklamirkan. Begitu juga dengan tulisan ini mencoba membuka cakrawala berfikir bahwa penonton (pembaca) bukan berarti miskin karya. karena penonton (pembaca) merupakan pendukung utama akan keberlangsungan media massa itu sendiri. Pembaca dan penonton sebenarnya raja. sama seperti pembeli yang disebut raja dalam dunia perdagangan raja, bebas mengatur hidupnya, bebas melakukan kebijakan-kebijakan politik, semua terserah pada Raja. Bebas mau membaca apa saja, menonton apa saja, serial komedi, sinetron, action, adventure dan drama romantis. Tak kan ada penerima Piala Citra, panasonic award, Nobel dan penulis best Seller jika penonton dan pembaca tidak berperan.
Berawal Dari Baca
Anak bangsa (Baca; Indonesia) harus up to date mengakses informasi, apalagi berita harian yang setiap hari berubah dan berkembang. Menguasai informasi sama saja mempersempit ruang pembodohan, agar benar-benar sejarah kelam Indonesia terjajah selama tiga abad lebih tidak terulang kembali. Membaca jalan satu-satunya Menguasai informasi dan generasi yang cerdas adalah generasi yang banyak membaca.
Penulis buku trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) , Ahmad Tohari berpendapat, semua pengarang itu sebelumnya pembaca yang rakus. Pembaca yang tidak pernah kenyang, selalu lapar dan haus akan informasi.
Misalnya Tanmalaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia yang terkenal dengan Buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, dan Massa Actie (1926) jauh sebelum Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).
Buku Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie itulah yang kemudian menjadi santapan bergizi faunding fathers sehingga tergugah melahirkan karya baru demi teriptanya Indonesia berdulat, berdikari , bermartabat, adil dan makmur.
Bung Karno salah satu seorang pembaca yang rakus. Bung Karno menghabiskan buku karya Tanmalaka dan tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat . tidak hanya sang proklamator yang terinspirasi dari karya besar Tanmalaka. Pencipta lagu wajib yang semua anak bangsa pasti tahu dan hafal betul. W.R. Supratman juga telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat ”Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami dari Massa Actie.

Jadilah Pemenang
Bung Karno dan W.R. Supratman pernahkah merasa malu ketika dulu baru hanya menjadi pembaca? merasa malu kalau karya mereka terinspirasi dari orang lain? Founding Fathers malah menjadi pemenang yang tak hanya hidup ratusan tahun. Tapi mereka kekal, hidup selamanya. Dikenang setiap generasi.
Tak salah ibu mengandung, ungkapan klasik pemberi spirit kebangkitan dalam setiap langkah, artinya tak ada yang salah dalam hidup ini, semua mengikuti arus. Tak ada yang salah hanya jadi kutu buku! Hanya jadi penonton! Semua mengalir, menyambung apa adanya berdasarkan porsi dalam mengejawantahkan hobi sehingga menjadi minat dan bakat. Karena hidup berawal dari mimpi, begitu kata Bondan Feat 2Black.
Terus membaca dan membaca. Jadilah pemenang! Dan yang terpenting jangan malu hanya baru menjadi pembaca!

Rabu, 18 Februari 2009

GOLPUT DIVONIS HARAM



Sebuah Fatwa Gegabah
Oleh Juanda el-Bangka


Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menuai kontroversi dengan fatwanya yang cenderung irasional. Keputusan MUI yang kurang etis tersebut salah satunya dengan mengharamkan golongan putih (Golput). Tak habis pikir, apa itu tanda ketidakmampuan KPU menggelar pesta demokrasi tertinggi di Negara berlambang burung garuda sehingga MUI dijadikan batu loncatan. Atau memang benar apa yang dikatakan oleh salah satu tokoh NU distasiun swasta beberapa waktu yang lalu, secara tegas menyindir kebobrokan KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang konon bercokol orang-orang pintar.
Menurut hemat saya, golput merupakan pilihan demokrasi seseorang, privasi yang tidak boleh dipaksakan, bukankah hidup merupakan pilihan. Dan golput sendiri bentuk sebuah demokrasi. fatwa MUI justru mengkungkung demokrasi dan sebuah pembodohan publik. Kampanye anti golput -dengan mengharamkannya- dijadikan hukum absolut. Apakah tidak ada cara yang lebih efektif. Haram merupakan hukum yang mau tak mau jangan dilaksanakan, dan berdosa besar bagi yang melanggarnya. Begitulah pengertian haram dimata masyarakat awam. Ada guyonan teman yang nyeletuk menyikapi fatwa MUI yang terlihat gegabah itu,’Sekalian aja semuanya diharamin biar pada taat’.
Kata-kata seorang teman tersebut wajar terucap, karena MUI seolah-olah mempunyai hak Veto yang terpimpin sehingga harus dipatuhi. Golput bukanlah masalah aqidah dan mua’malah, hanya hasrat dan kepedulian terhadap kepemimpinan. Taat kepada pemimpin (ulil ‘amri) yang dijadikan pedoman untuk mengharamkan golput. Tapi harus diingat, Indonesia bukanlah Negara agama, tapi merupakan Negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD’45 yang tidak bisa digangu gugat keberadaannya.
Semoga MUI lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi fatwa-fatwanya demi keutuhan Bangsa dan Negara, dan mohaon untuk meninjau kembali fatwa yang sudah terlanjur diikrarkan dan menghebohkan itu.
Fatwa MUI itu berdasarkan politis, bukan berlandaskan theologis. Fatwa yang cacat dan tidak ada qias ulama terdahulu. Apakah fatwa haram yang diucapkan MUI tersebut sama dengan vonis haramnya miras, berzinah yang telah ditegaskan alqur’an dan qias.
Tapi, jangan terlalu diributkan, itu dinamika politik dan hukum di Indonesia, yang terpenting tetap jaga persatuan dan kesatuan bangsa, keutuhan Negara Republik Indonesia. Jelasnya, NKRI harga mati dan fatwa MUI terlalu kecil untuk menggoyahkan bangsa ini. (***)

Rabu, 04 Februari 2009

TIMAH MEMBUNUH BUMI

Bumi Indonesia yang aku pijak kini begitu panas dan gersang. Indonesia sejuk, dengan semilir angin sepoi-sepoi dan nyiur melambai hanya tinggal nyayian rayuan Sang Kelana. Saat ini mata silau dengan kesilauan matahari yang kian menggigit. membakar penghuninya, Si Kholifah Bumi.

Bangka belitung, propinsi yang baru berusia delapan tahun itu adalah tempat kelahiranku. Tepatnya dipulau bangka aku dilahirkan. Kepulauan itu memang sejak dahulu kala terkenal dengan timahnya yang melimpah ruah. Sehingga ada yang menjulukinya atau hanya pengakuan dengan Kota Timah (Tertib, Indah, Menawan, Aman, Harmonis).

Bumi Bangka gersang dan bolong acak-acajkan. Itu pun pernah aku amati dari atas pesawat beberapa kali -saat mudik-

Menurut sejarah, konon penambangan itu terjadi sejak zaman kolonialisme dan imprealisme. Koran Kompas juga pernah menyoroti pulau penghasil Lada dan Timah tersebut beberapa bulan yang lalu. Bangkaku makin terpuruk dan gersang, bolongan bekas penambangan terlihat bagai padang pasir. Kerukan bekas penambangan yang tidak dipulihkan oleh sang pemilik memberi tanda kebiadaban dan keserakahan manusia terhadap Bumi. Tapi, semua karena Timah, harta karun yang banyak mengorbankan nyawa karena ratusan penambang liar-tradisional- terperosok ke lubang penambangan yang mereka gali sendiri. Lubang yang berbentuk botol memang mudah longsor. Mengeruk Bumi tanpa perasaan, persis dracula yang haus darah. Timah bagaikan tete’ majikan yang selalu siap menggoda untuk disedot Tuyul.

Animo masyarakat membludak, meraup harta karun berwarna hitam itu, sehingga banyak orang kaya baru (OKB) disebabkan oleh Timah. Hanya orang tuaku yang setia dengan perahunya, masih konsisten dengan sebutan seorang nelayan.

Bumi kian tua, Bumi cukup merana dan tersiksa dengan tindak tanduk manusia. Fenomena diatas bisa memberi oposan untuk cinta kepada Bumi agar tak menggali makam sendiri. Kasihanilah Bumi Indonesia. Cintailah Tanah Air ini. Bumi subur rakyat makmur.

Senin, 04 Agustus 2008

Sang Pencabut Nyawa Dari Jombang


Mata terbelalak lebar ketika menyaksikan berita di sebuah station televisi swasta, santer media massa menceritakan kesadisan Ryan, Penjagal dari Jombang. Ryan mungkin terobsesi menjadi malaikat pencabut nyawa atau memang itu cita-cita lelaki kemayu yang katanya mantan guru ngaji tersebut.

Ternyata tidak hanya media massa yang aktif mempopuliskan Ryan. Demam Ryan juga terjadi di sekitar komunitasku. Ryan sering jadi bahan olok-olokan dan penghangat situasi, karena hanya sekedar berkata “Ryan loe, mirip Ryan ya si ini” kemudian disambut spontan oleh tawa berantai teman-teman yang terbahak-bahak. (mungkin termasuk yang lagi baca ini, mirip banget ama Ryan, gay n killer… takuuuttttt)

Berita Gay Ryan menurut saya hanya mengalihkan issu kenaikan BBM dan kematian mahasiswa Universitas Nasional (UNAS), Maftuh Fauzy yang gugur pasca kebijakan pemerintah yang nekat kumandangkan kenaikan BBM .Rating berita Ryan melonjak tinggi dan entah sampai kapan berita itu redup. Atau mungkin sampai di film-kan seperti aktor sadis lainnya, sebut saja Dukun As dan Kanibal Sumanto. Semakin hari semakin gila (mau kiamat kale bro). Manusia di kubur dekat rumahnya sendiri, apa dia tidak takut gentayangan. (hikh…hikh..seremm, jadi merindinng bulu…bulu apa ya! hehe).

“Bangkai di manapun disembunyikan pasti ke bau juga.” Pepatah kolot yang cocok buat Fery Idham Heryansah alias Anto alias Ryan tersebut. Sebenarnya Ryan hampir menumbangkan pepatah kolot di atas jika bangkai yang ia sembunyikan tidak diketahui. Kegagalan Ryan adalah keberhasilan yang tertunda buat dirinya. Ryan berhak masuk jeruji besi atas tindakannya dan siap terkenal. (Selamat ya Ryan!hmmmmm).

Semoga yang ingin berbuat serupa dengan Ryan bisa lebih kratif dan inovatif. Berpikir jernih dan lebih hati-hati agar tidak ketahuan. Jadilah penjagal yang cerdik, kanibal yang pintar dan dukun yang sakti agar bebas dari penciuman aparat hukum. Sebuah pesan buat siapa saja yang berminat melanjutkan program kerja aktor Ryan, Sumanto atau Dukun As. (kamu mau?met mencoba aja dah…,haha).

23:05/020808

Selasa, 13 Mei 2008

Trisakti Yang Dilupakan


Tanah air atau mati, demi kemenangan" Partia o muerte venceremos " sebuah kata2 yg mmbuat ku terpanah, sang revolusioner fidel Castro yg konon katanya merupakan reankarnasi dari singa eropa, Napoleon Bonaparte di abad ini. idealis sejati penentang para durjana penjajah.
patut dijdikan rujukan bagi anak bangsa yg msh mempunyai nurani pd kecintaannya pd tanah air. aku terenyuh, terhanyut meskipun sempat ku berfikir, msh ada org langka seperti fidel Castro. konsistensi dlm revolusi sampai mati yg memang merupakan jargon sang revolusioner.
melihat kenyataan yg ada saat ini bagaimana NKRI berpetak-petak pd perpecahan, mengabaikan ajaran Bungkarno yg terkenal dgn Trisaktinya "Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan". skrg INA (Indonesia) terjajah oleh arus globalisasi! dan akar rumput kerepotan menghias dapur yg jarang ngebul. konsep Trisakti dilupakan di negeri sendiri dan aplikasikan oleh negara seperti Malaysia dan RRC.
BBM kemungkinan akan naik (menutut berita2 pasti naik), mahasiswa serentak turun kejalan. Reformasi pasca ORBA tak ada perubahan yg signifikan. justru apakah akan terjadi reformasi yg kedua?
repotnasi justru akan menggilas para marhaen dan proletar di INA. berapa bayak lagi akan bertambah busung lapar, gizi buruk dan buta aksara. globalisasi atau ngegombalisasi?
dimana letak kemenangan wong cilik... yang menang pasti yg banyak uang, begitu kata Iwan Fals.

Partia o muerte venceremos !

Kamis, 03 April 2008

QUO VADIS KEPEMIMPINAN MAHASISWA



Kata Quo Vadis “ketidak jelasan” mengawali tulisan ini, Quo Vadis saat mata menyaksikan sebuah kenyataan yang kontraversi dengan harapan, harapan perubahan yang terlontarkan oleh para calon pemimpin mahasiswa (legislatif dan eksekutif ) di IAIN “SMH” banten tatkala berkampanye pada pesta demokrasi mahasiswa pertengahan 2007 silam.

Saya masih ingat, ketika itu kata “Kebersamaan” menjadi kesan tersendiri bagi saya pada debat Visi dan Misi calon presiden Mahasiswa (Capresma) .Semua calon leaders dengan penuh percaya diri (PD) mengulang kata “Kebersamaan”. Sebuah kata yang telah mendapat imbuhan (ke-ber-an) itu dasyat sekali, satu kata yang bisa membius semua mahasiswa yang hadir pada waktu itu, khususnya diri saya pribadi.

Medio pemerintahan telah berotasi, tahta yang dijadikan berhala tergenggamlah sudah. Tapi belum terlihat perubahan yang signifikan kecuali perubahan senyap, sepi dan hening baik legislatif maupun eksekutif. Tak terlihat pula kebersamaan yang menjadi icon kampanye tempo lalu. Bahkan yang terlihat adalah keretakan, perceraian dan kocar-kacir kroni-kroni legislatif dan eksekutif.

Padahal untuk meraih jabatan ini tak semudah membalik kedua telapak tangan tapi memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak gampang. Entah terlalu sibuk di eksternalkah sehingga lupa akan kewajiban di internal KBM sendiri? Apabila ini akan terus berlanjut, legislatif dan eksekutif tidak mampu berbenah sampai akhir rezim pemerintahannya, maka dampaknya akan menjadi Phobia pada salah satu organisatoris dan hancurnya reputasi.

Runtuhnya persatuan memberi signal bahwa legislatif dan eksekutif telah gagal menjadi pemimpin ideal sebagaimana impian pada setiap pelatihan kepemimpinan mahasiswa (PKM). Atau memang seperti itu pemimpin ideal? Mungkin itu hanya kamuflase, halusinasi penulis yang terlalu mendramatisir, tapi lihat saja kenyataannya, semua itu fakta atau rekayasa?

Menurut pisau analisis penulis, ini semua terjadi karena Misscommunication, missunderstanding dan kurang mengertinya jobdescription sehingga membuahkan stagnasi di pertengahan roda pemerintahan. Naïfnya, hal itu sering terjadi mengingat jabatan legislatif atau eksekutif menjadi buruan yang mahal., sebagai uji soulmate antara pemimpin dan wakilnya serta uji coba kesolidan pendukung dan simpatisannya, juga kesempatan untuk menjadi Ratu adil yang ditunggu-tunggu. Dan yang terpenting ini menjadi ajang pembuktiaan silat lidah yang telah terlanjur terkoarkan.

Matinya aktivitas eksekutif dan legislatif di kampus “Jingga” (IAIN “SMH” Banten) sangat ironis, menginggat fungsi dan perannya demi kemajuan keluarga besar mahasiswa (KBM) seperti merancang dan menjalankan konstitusi KBM, komando pada setiap kegiatan. dan corong aspirasi mahasiswa.

Iwan Fals pernah menyindir ahli hipnotis pada bidang ngebacot tersebut menjelang Pilpres RI pada Pemilu 2004. Syair lagunya yang berjudul buktikan pada album manusia setengan dewa :“Kata-kata berbisa, mulut-mulut berbusa,Janji-janji bertebaran seperti biasa dari atas panggung atas nama bangsa ,yang mendengar terpesona bahkan ada yang terkesima akupun tergoda untuk mengikuti apa yang terjadi, apakah memang janji hanya janji. Buktikan!buktikan itu yang dinanti-nanti, Buktikan!buktikan kalau hanya omong burung beopun bisa...” Sebuah potongan syair yang menyentuh jiwa, menyentil para calon leaders, karya pembongkar fakta, sebuah album yang yang fenomenal pada saat krisis kepercayaan melanda bangsa.

Kepandaian berargumentasi menjadi modal kemenangan pada setiap pesta demokrasi meskipun tidak ada kalah dan menang, begitu kata Sutan Takdir Alisjahbana dalam salah satu penggalan puisinya yang berjudul “Kalah dan Menang.

Sejarah takkan terulang kembali,dan kesempatan tak datang dua kali, begitu kata sang bijak. Potret ini akan menjadi refferensi untuk suksesi pemimpin pada pesta demokrasi mahasiswa yang akan datang. Kaca perbandingan Agar kapal yang bernama KBM tak terombang ambing seperti saat ini. Justru “golongan putih” (golput) menjadi salah satu jalan demokrasi terbaik sebagai bayaran kejenggahan akan semua koar-koar calon penguasa. Hanya bisa speak and speak , Kalau hanya omong burung beo pun bisa!


(24 /03/08 - 03:45)


Selasa, 25 Maret 2008

IAIN POCO-POCO



Berbicara kampus “Jingga” (IAIN “SMH” Banten) tidak lepas dari problematika klasik yang belum tuntas. Sarana dan prasarana kurang itu hal yang biasa tapi toilet gersang di musim hujan bukanlah suatu kewajaran. Lembaga boleh berbangga karena bisa menekan mahasiswa dengan kebijakan baru, pengumpulan foto melalui CD jadi anggukan serempak mahasiswa dan aktivis kampus.

Kebijakan lembaga dengan pengumpulan foto melalui CD menambah kemacetan registrasi pengambilan Kartu Rencana Studi (KRS) yang selama ini menjadi momok setiap awal semester. Ketidakkonsistensian lembaga dalam jadwal registrasi juga semakin mewarnai antri panjang awal semester ini, seperti yang terjadi ketika fakultas Uswah melakukan registrasi (05/02). Mahasiswa Uswah adalah mahasiswa yang berkuantitas paling buncit (sedikit) di kampus jingga, sebagaimana yang diutarakan oleh Pembantu Dekan tiga bagian kemahasiswaan Fakultas Uswah, Syafi’in Mansyur pada Orientasi Pengenalan dan Keakraban Fakultas Ushuludin dan Dakwah (OPK’ USWAH) tempo lalu. Tapi ketika registrasi terlihat membludak karena bercampur dengan fakultas di luarnya yang juga berebut antri registrasi padahal telah ada jadwal registrasi masing-masing. Anehnya, pihak akademik pun melayaninya sehingga antrian panjang tak terelakkan.

Praktikum merupakan menu rancu yang hanya menggugurkan kewajiban. Lihat saja faktanya. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester lima melakukan praktek haji seperti ujian lisan, tak ada kain dan baju ihram. Meja dijadikan ka’bah berkeliling bak penari balet. Jauh berbeda yang dilaksanakan oleh jurusan lain (semester genap kemarin) yang perlengkapan praktikumnya lengkap layaknya manasik haji sungguhan. Padahal bayaran praktikumnya sama. Juga jurusan Tadris Bahasa Inggris (TBI) semester tiga melakukan praktek komputer hijrah ke kampus STMIK Baja karena lagi-lagi kendala prasarana yang tidak memadai.

Jika meminjam istilah mantan presiden wanita RI, Megawati, yang mengkritisi pemerintah baru-baru ini “Pemerintah sekarang bak penari poco-poco, maju selangkah, mundur pun dua langkah”, artinya, hanya diam di tempat (Koran Tempo 11/02). Seirama dengan realita di kampus negeri yang berwarna jingga.

Atau mungkin senada dengan perkataan Yusuf Kalla “dansa-dansa yang berputar-putar”, maksudnya tidak hanya diam di tempat, tapi juga tak jelas kemana arah kebijakannya (Koran Tempo 11/02).




INDONESIA BELUM MERDEKA?




....Sekali Merdeka

Tetap Merdeka

Selama Hayat Masih Dikandung badan....”


Itulah salah satu potongan bait yang selalu menggema, sebuah lagu yang dilantunkan oleh Bangsa ini secara menyatu di seantero Indonesia ketika memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI ) dari zaman Orde lama (ORLA), Orde baru (ORLA), Orde Reformasi dan sampai Orde paling baru pada saat sekarang ini.

Menurut fakta yang nyata 17 adalah Angka cantik dan Agustus disebut bulan paling mujur sepanjang sejarah peradaban Bangsa Indonesia. Tujuh belas Agustus merupakan hari sakral di negara Indonesia, Tahun 1945 adalah tahun Hoki yang membuka gerbang kemerdekaan di negeri yang katanya kaya raya, subur makmur, gemah ripah loh jinawi ini. Jadi tidak heran jika tanggal 17 agustus layaknya sebuah spritual tahunan yang ditunggu – tunggu oleh semua elite di negeri ini, baik kaum berjois maupun proletar, karena dihari itu peletakan batu pertama pembangunan negeri diresmikan.

Enam puluh dua tahun genderang proklamasi telah ditabuh. Enam puluh dua tahun pula kemerdekaan masih menyimpan misteri, misteri tentang arti kemerdekaan itu sendiri, sebuah teka–teki sepenggal kata “Merdeka” (freedom) yang tidak asing lagi terngiang di telinga.

Pada umumnya freedom itu diartikan bebas dari belenggu penjajahan, seperti Indonesia yang terbebas dari ganasnya penjajahan Belanda dan sekutunya, perbudakan yang mengikis kekayaan Bangsa, mencuri hak Rakyat jelata, dan membunuh karakter para abdi negara.

Secara de facto dan de jure Indonesia telah merdeka, kemerdekaan yang ditebus dengan keringat darah, dibayar dengan jiwa raga bahkan nyawa oleh para pejuang Bangsa. Perjuangan para pahlawan itupun tanpa ada kontrak poliltik, perjuangan suci yang hanya mengusung satu kepentingan yakni kemerdekaan abadi dan keadilan hakiki. Oleh karenanya para pahlawan, rela berjuang mati-matian demi berkibarnya sangsaka merah putih di persada Indonesia.

Kemerdekaan menyisakan isak tangis, kemerdekaan pula memberi pengalaman dan pembelajaran berharga kepada founding father Bangsa ini. 62 tahun telah berlalu sang Proklamator Soekarno- Hatta telah memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia, sebagaimana tercantum dalam teks piagam jakarta, akhirnya kemerdekaan yang di impikan selama 350 tahun (3 1/2 abad ), kemerdekaan yang tadinya khayalan peganggu tidur tergenggamlah sudah, kemerdekaan dapat diraih dengan perjuangan yang tidak secara kebetulan, tapi dengan perjuangan yang akhirnya menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Bangsa.


MAKNA KEMERDEKAAN

Selama 62 tahun mungkin freedom hanyalah kata tanpa makna, sebuah teriakan tanpa arti, karena menurut realita yang ada penjajahan masih menari – nari dalam penderitaan kaum Proletar, menginjak – injak Marhaen Bumi Putera, karena freedom tak banyak berbuat demi terciptanya kemanusiaan yang adil dan beradab, kesejahteraan dan kemakmuran Bangsa, bahkan sebaliknya banyak fakta itu berjalan bertolak belakang dari hakekat makna kemerdekaan sejati yang diharapkan oleh wong cilik. Lalu apa arti kemerdekaan itu?

Menurut penulis, Kemerdekaan (freedom) yaitu bagaimana seseorang atau sebuah negara yang bebas mengekspresikan diri tanpa campur tangan ideologi manapun. Jelasnya seseorang yang bebas berkreasi, berbuat sesuka hati sesuai dengan konstitusi, sebagaimana tercantum pada amanat UUD’45: “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala Bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus di hapuskan, karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan keadilan.”

Dalam teks UUD’45 tersebut secara tidak langsung memberi penjelasan kepada anak Bangsa bahwa semua bentuk penjajahan di dunia ( Indonesia ) baik penjajahan fisik, moral, dan ideologi harus di hapuskan, karena semua itu hanyalah penindasan, pembunuhan karakter regenerasi Bangsa ini. So freedom Is MERDEKA – MERDEKA dan MERDEKA.

Lalu Pertanyaan yang timbul dibenak kita, apakah Bangsa Indonesia telah terbebas dari penjajahan? Pertanyaan itulah yang menjadi diskusi kita semua, hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Berbicara merdeka Penulis teringat dengan kata – kata sang proklamator Indonesia

Perjuanganku lebih muda karena berjuang mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena berjuang melawan Bangsamu sendiri.”

Itulah pesan yang keluar dari lidah sang Singa Podium, founding father Bangsa Indonesia. pesan Bung Karno tersebut memberi arti yang simpati bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan walaupun melawan Bangsa sendiri, perjuangan itupun akan lebih sulit dari perjuangannya yang hanya mengusir para penjajah.

Ketika kemerdekaan itu adalah hak segala Bangsa, hak setiap yang bernapas, hak semua Rakyat Indonesia tanpa terkecuali, lalu bagaimana mengartikan kata freedom jika melihat polemik – polemik yang terjadi saat ini.

Apa makna kemerdekaan bagi korban lumpur lapindo ? kemerdekaan buat busung lapar? kemerdekaan untuk wong cilik ? lalu kemana pejuang kemerdekaan tatkala perampok berdasi merajalela, dimana letak makna kemerdekaan tatkala dracula birokrat yang penghisap darah Rakyat masih bergentayangan ?

Apakah fenomena diatas masih di sebut makna kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial?

Semoga dengan HUT RI ke-62 ini kata “MERDEKA” yang di teriakkan tidak hanya kata tanpa makna, tapi kemerdekaan yang diharapkan Bangsa Indonesia sesuai dengan PANCASILA dan UUD’45. Semoga.** (Joe’Siregar)**