Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2011

GMNI BUKAN KOMUNIS!



Pernyataan Sikap DPC GMNI Serang, saat aksi 30 Juni 2011 di depan Kantor MUI Kabupaten Serang.

Salam Pejuang-Pemikir!
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) adalah hasil proses peleburan 3 (tiga) organisasi mahasiswa, yaitu; Gerakan Mahasiswa Marhaenis Berpusat di Yogyakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka berpusat di Surabaya, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat berpusat di Jakarta. GMNI lahir pada 23 Maret 1954 yang berazaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno (Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi dan BerkeTuhanan YME) dan GMNI berideologi Pancasila 1 Juni 1945. jadi jelas tidak benar jika GMNI berideologi Komunisme sebagaimana stetment yang dikeluarkan oleh Ketua MUI Kabupaten Serang, KH. Syafe’i AN pada Seminar (24/6) di Auditorium Untirta.
Stetment yang dilontarkan oleh Ketua MUI Kabupaten Serang tersebut telah menciderai nama baik GMNI sebagai organisasi kader yang berbasis di kalangan mahasiswa. Apakah sudah mati naluri ke-Ulamaan Ketua MUI Kabupaten Serang sehingga lancang menyebar sesuatu yang tidak benar (fitnah)?
Seorang Ulama, semestinya selalu menjaga lisan dan perbuatannya. Memberi contoh dan menjadi contoh suritauladan yang baik. Tapi Ulama yang satu ini justru telah membangun konflik yang sangat menciderai GMNI.
Maka dari itu, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Serang menyatakan:
1. Mengecam Stetment Ketua MUI Kabupaten Serang, KH. Syafe’i AN yang memvonis GMNI Komunis.
2. Mendesak Ketua MUI Kabupaten Serang secara pribadi dan Institusi mencabut stetmentnya dan meminta maaf kepada GMNI melalui media massa (media lokal dan nasional )
3. Menegaskan bahwa GMNI Berideologi PANCASILA 1 Juni 1945.
4. GMNI 100% Nasionalis.
Merdeka!!!

DPRD BANTEN TIDAK MANUSIAWI!



Pernyataan sikap Aksi 22 Juni di DPRD Banten terkait Pengadaan Mobil Dinas Pinjam Pakai yang terindikasi Melanggar Peraturan perundang-ungangan;


Hidup Rakjat Djelata!
DPRD Banten sebagai wakil rakyat semestinya bercokol orang-orang cerdas, mempunyai naluri kerakyatan dan tentunya pro terhadap rakyat. Tapi itu semua tergerus dengan kepentingan pribadi yang selalu mendewakan fasilitas mewah tanpa frestasi kinerja yang membanggakan.

Mobil dinas adalah salah satu contoh fasilitas DPRD Banten yang membuat rakyat Banten terluka. Karena mengeruk dana Rp. 16,8 miliar. Bukan nominal yang sedikit. Ironis!

Lebih parah lagi, dana yang digelontorkan untuk menyediakan Mobil Dinas tersebut terindikasi kongkalingkong antara Legislatif dan Eksekutif karena ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan berdasarkan temuan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP ) BPK 2010 yang menyebutkan Pengadaan Mobil Dinas tidak tepat peruntukannya.

Sampai saat ini, Mobil Dinas yang menjadi temuan LHP BPK itu masih saja dinikmati oleh Anggota DPRD Banten tanpa ada rasa malu dan niat yang baik untuk mengembalikan Mobil Dinas hasil konspirasi tersebut. Benar-benar tidak manusiawi dan sudah rusak moral Anggota DPRD Banten.

Berdasarkan temuan LHP BPK terkait Pengadaan Mobil Dinas tidak tepat peruntukannya itu. Maka, GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI) CABANG SERANG menyatakan sikap:

1. DPRD Banten harus mengembalikan Mobil Dinas.
2. Mengecam Anggota DPRD Banten yang menerima Mobil Dinas.
3. Mengutuk keras Politik Konspirasi di DPRD Banten.
Merdeka!

“...Pejuang bukan hanya berjuang dengan teriakan tanpa makna, tetapi lebih berjalan atas nama hati nurani dan kejujuran...”(Bung Karno)

Selasa, 08 Maret 2011

GERAKAN PEDULI DARSEM





Selamatkan Darsem dari Pancungan!

Darsem adalah seorang wanita TKI asal Subang –Jawa Barat yang membunuh lelaki berkewarganegaraan Yaman bernama Walid -- yang beralamatkan di Distrik Al-Uraja, sebelah Selatan Kota Riyadh--setelah menjalani proses hukum, Darsem binti Daud Tawar divonis hukuman mati (pancung) pada Juni 2008. Akan tetapi, setelah mendapatkan maaf dari salah satu ahli waris korban. Darsem kemudian bisa dibebaskan dari hukuman mati (pancung) jika diganti dengan diyat sebesar 2 juta Riyal atau senilai Rp 4,7 milyar. Peristiwa kasus pembunuhan Walid terjadi pada Desember 2007. Darsem membunuh karena ingin membela diri ketika hendak diperkosa.
Darsem membutuhkan seluruh bantuan seluruh warga Indonesia yang peduli kemanusiaan terlepas apapun perkaranya. Darsem dan seluruh TKI berhak mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Sempitnya lapangan pekerjaan membuat nekat untuk menjadi TKI. Peristiwa Darsem mengingatkan kepada seluruh pemangku kekuasaan di Indonesia (tak terkecuali Pemerintah Provinsi banten) untuk segera membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya sehingga tak perlu lagi untuk menjadi TKI karena resiko TKI sagatlah berat.
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI) CABANG SERANG, Sebagai Organisasi yang berjuang bersama rakyat dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD’45 berpartisifasi untuk mengurangi beban Darsem karena pemerintah sudah tidak mampu melindungi Bangsanya sendiri dan selalu lamban dalam bertindak. Stop Eksploitasi Manusia!
Merdeka!
Marhaen Menang!



Anda Bisa Salurkan ke Nomor Rekening DPC GMNI SERANG
0011766080100 BANK JABAR BANTEN a.n Nining Rodianah (BENDAHARA)

Minggu, 30 Mei 2010

Pidato Bung Karno di Kongres GMNI

Lenyapkan Sterilitiet Dalam Gerakan Mahasiswa
PIDATO TERTULIS PYM PRESIDEN SUKARNO PADA KONFERENSI BESAR GMNI DI KALIURANG JOGJAKARTA, 17 FEBRUARI 1959.

Terlebih dahulu saya mengucapkan selamat dengan Konferensi Besar GMNI ini.
Dengan gembira saya membaca, bahwa asas tujuan GMNI adalah Marhaenisme. Apa sebab saya gembira?
Tidak lain dan tidak bukan, karena lebih dari 30 tahun yang lalu saya juga pernah memimpin suatu gerakan rakyat -suatu partai politik- yang asasnya pun adalah Marhaenisme.
Bagi saya asas Marhaenisme adalah suatu asas yang paling cocok untuk gerakan rakyat di Indonesia. Rumusannya adalah sebagai berikut: Marhaenisme adalah asas, yang menghendaki susunan masyarakat dan Negara yang didalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen. Marhaenisme adalah cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum Marhaen pada umumnya. Marhaenisme adalah dus asas dan cara perjuangan "tegelijk", menuju kepada hilangnya kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme. Secara positif, maka Marhaenisme saya namakan juga sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi; karena nasionalismenya kaum Marhaen adalah nasionalisme yang social bewust dan karena demokrasinya kaum Marhaen adalah demokrasi yang social bewust pula.
Dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu? Yang saya namakan Marhaen adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat: yang telah dimelaratkan oleh setiap kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme.
Kaum Marhaen ini terdiri dari tiga unsur: Pertama : Unsur kaum proletar Indonesia (buruh) Kedua : Unsur kaum tani melarat Indonesia, dan Ketiga : kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
Dan siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis? Kaum Marhaenis adalah setiap pejuang dan setiap patriot Bangsa. Yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu, dan Yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan sistem kapitalisme, imprealisme, kolonialisme, dan Yang bersama-sama dengan massa Marhaen itu membanting tulang untuk membangun Negara dan masyarakat, yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.
Pokoknya ialah, bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme seperti yang saya jelaskan di atas tadi. Camkan benar-benar: setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen!
Apa sebab pengertian tentang Marhaenisme, Marhaen dan Marhaenis itu saya kemukakan kepada Konferensi Besar GMNI dewasa ini?
Karena saya tahu, bahwa dewasa ini ada banyak kesimpangsiuran tentang tafsir pengertian kata-kata Marhaenisme, Marhaen dan Marhaenis itu.
Saya harapkan mudah-mudahan kata sambutan saya ini saudara camkan dengan sungguh-sungguh, dan saudara praktikkan sebaik-baiknya, tidak hanya dalam lingkungan dunia kecil mahasiswa, tetapi juga di dunia besar daripada massa Marhaen.
Sebab tanpa massa Marhaen, maka gerakanmu akan menjadi steril! Karena itu:
Lenyapkan sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa! Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen! Agar semangat Marhaenisme bernyala-nyala murni! Dan agar yang tidak murni terbakar mati!
Sekian dulu, dan sekali lagi saya ucapkan selamat kepada Konferensi Besar GMNI, dan mudah-mudahan berhasillah Konferensi Besar ini.
Jakarta, 17 Februari 1959
PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/ PEMIMPIN BESAR REVOLUSI
SUKARNO BAPAK MARHAENISME
sumber: http://marhaenis.org

Jumat, 29 Mei 2009








Selamat atas dideklarasinya Usef Saefudin dan Juanda, menjadi Capres-Cawapres Mahasiswa IAIN "SMH" Banten.
(Joe Corner, Save Our Unity)

Rabu, 27 Mei 2009

Press Release

Joe Corner


Joe Corner merupakan sebuah gerakan menuju kejayaan KBM IAIN "SMHB" yang berdaulat dan bermartabat, berdiri pada 25 Mei 2009, Juanda Siregar sebagai Pembina, Lukmanul Hakim sebagai ketua Presidium dan Hana Habibah JS sebagai Sekretaris jendral.
Joe Corner mempunyai Motto Berjuang-rebut-Menang. Bersemboyan Save Our Unity.

Rabu, 18 Februari 2009



Warning
profil singkat:
Tampang sih kaya "politisi prematur,"
hobinya megobral jaanji-janji surga (JJS), pemuda yang tak punya tampang akademis. meski berwajah proletar-jauh dari borjuis- ini orang narsis BGT euyyy ,penganut politisi abu-abu tulen, bahkan hitam pekat.
prinsip ideologinya pragmatis dan uportunis.
jangan dipilih calon koruptor seperti ini.(^_^)

Selasa, 16 September 2008


Salam Persma!
Untuk kru Pers Mahasiswa Di Graha LPM SiGMA IAIN "SMH" Banten. Semoga semakin gesit dan menggigit pada kepengurusn yang baru akan dilantik dan raker pada jumat (19/09) mendatang. Sesuai dengan temanya "SiGMA Gesit-SiGMA Menggigit."

www.jasmerah1954.blogspot.com
Mengucapkan selamat dan sukses dengan terpilihnya Hendri Goenawan, Pimpinan Umum Priode 2008-2009.

Kamis, 04 September 2008

OKNUM MANTAN PEJABAT EKSEKUTIF SEBARKAN KWITANSI FIKTIF


Meskipun tulisan ini sedikit usang karena pembayaran regestrasi telah berakhir pada Jum’at (29/08), tapi bisa-mungkin- menjadi kajian untuk pelajaran, antisipasi serta pengawasan yang tajam-ketat- pada tahun berikutnya.

Siang itu (28/08) bertepatan dengan hari terakhir OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik) KBM IAIN Banten. kebetulan jam istirahat-makan- aku mampir di Salah satu Kantin Kampus. Memesan Ektra joss . di sana telah ada teman-teman yang aku kenal (aktivis kampus), kami pun bertegur sapa, dan ngobrol santai dan sesekali serius dengan diselingi canda tawa. Satu gelas extra joss telah ludes ku minum dan dua batang rokok filter hanya tinggal buntutnya (cangkang). Aku melirik ke depan kantin-jalan lalu lalang mahasiswa/i-Dua orang teman lewat kemudian mampir di kantin sebut saja namanya Boncoe dan Bonex. Selesai bersalaman, dia menanyakan tentang pembayaran Regestrasi kepada ku. Dan ujung-ujunngnya merembet pada urusan pembayaran DKM (Dana kegiatan Mahasiswa) yang memang selalu di pungut setiap tahunnya sebesar Rp.50.000 untuk pendanaan kegiatan KBM. Spontan dia berujar “bro jangan bayar aja lu uang DKM nya , lumayan khan lima puluh ribu. Mendingan lu nyecan aja sih!gue juga abis nyeken ” Koarnya, sambil memperlihatkan secanan /duplikat kwitansi DKM, persis dengan yang asli. Aku sempat kaget, bisa aja? Berani banget…gumamku dalam hati.

Kemudian dia menambahkan pernyataan ide gilanya kepada diriku yang meskipun gila tapi masih punya hati ini…hehe “Cuma seribu Lho satu lembarnya, lu datangin aja cetak foto/foto copy samping warteg belakang kampus, udah ada tau setingannya dan bayakan lagi yang beli di situ”. Jelasnya dengan tanpa dosa. “ngak bakal ketahuan ini” lanjutnya penuh meyakinkan.

Ketika aku bertanya siapa saja yang menduflikat kwitansi DKM. Seperti hapal terhipnotis oleh pertanyaanku, dia menjawab senuanya dengan lugas. Usut punya usut-sesuai pengakuan atau saksi Boncoe sendiri- ternyata yang menyebarkan Kwitansi Fiktif tersebut adalah salah satu Oknum Mahasiswa yang tersebar dari beberapa jurusan.

” Banyakan tahu yang pake Kwitansi skenan. Dan ada yang ngejualinnya dengan harga tiga puluh ribu, gue juga ditawarin tadi ama Mr. X, tapi mending gue nyeken ajalah Cuma seribu”,Tandasnya. Miris ketika aku mendengar pengakuan dari Teman ini. Dan lebih miris tatkala aku mengetahui penyuplai alias penyebar DKM Fktif adalah Mr. X, mantan Oknum pejabat eksekutif Mahasiswa tempo Lalu priode.

Lolosnya Kwitansi DKM Fiktif ini ke pihat lembaga keuangan Intitusi bertanda masih longgarnya pengawasan bagian keuangan- karena tidak bisa membedakan mana asli dan Palsu-juga kemalasan pihak keuangan untuk memperhatikan secara teliti juga ada gap, kurang komunikasi antara pihak penjaga loket regestrasi dengan penjaga pembayaran DKM yang dimotori BEMI . Presiden Mahasiswa, Deni Febriana ketika menanggapi fakta di atas. Dia menyesali tindakan pemalsuan dan penyebaran kwitansi Fiktif. Dia juga mengutuk oknum yang tega melakukan sikap pragmatis tersebut.” Pantesan saja belum Memenuhi target”,Cetusnya.

Minggu, 31 Agustus 2008

OPAK 2008


Dipaksa action bareng Peserta Opak 2008-sore menjelang malam- Opak terakhir (29/08). Sedot terus cerutunya Coy...hehee....yang di samping cakep gk bro? dilelang...hehe (gue juga lupa namanya)..heemmmmm



.......Malam Inagurasi Opak (Orientasi Pengenalan Akademik) 2008...karena cape jadi panitia, biar plong gue pun ikut jingkrak-jingkrakan (29/08). apalagi pas denger lagu bendera-Coklat-...
buru-buru gue ke depan...hehee

........................................Goyang Mbak....Meskipun cuma Jempol Loe doang!haha

Selasa, 15 Juli 2008

Pengolaan Migas Masa Soekarno


Tulisan ini sedikit nostalgia kepada founding father "Soekarno" yang keras terhadap imprialisme, tegas dalam setiap tindakan dan marah jika harga diri bangsa terkoyakkan. bapak bangsa!dan kita sekarang menginjak pada zaman "Reformasi" ada yang bilang "Era Setengah hati" penuh duri, menusuk pelan tapi pasti menghujam dengan tajam. sebelum itu ada yang namanya Orde baru, sebuah orde yang berkuasa selama 32 tahun. Selama itu pula, berbagai cerita sukses dan masa kejayaan Indonesia dimasa lalu dicoret dari buku-buku sejarah, termasuk soal cerita sukses pengelolaan migas di era “Bung Karno”. Kesuksesan Bung Karno dalam tata kelolah migas bukan saja terletak pada besarnya keuntungan dari migas yang mengalir kekantong negara, tetapi juga terlihat pada begitu berdaulatnya pemerintah Indonesia dihadapan korporasi-korporasi asing (Stanvac, Shell, dan Caltex). Kemajuan terbesar dari tata kelola migas yang “berdikari” dimasa itu adalah kemajuan di sektor pendidikan. Pada tahun 1950, orang yang bisa baca-tulis diperkirakan 10% dan diperkirakan terdapat 230 orang Indonesia yang memiliki pendidikan lanjutan (setingkat SMU) lulusan lembaga-lembaga pendidikan kecil yang didirikan Belanda. Dalam sepuluh tahun, orang-orang yang bisa baca-tulis telah meningkat menjadi lebih dari 80% dan sekolah-sekolah hampir ada di setiap desa.

Prinsip Pengelolaan Migas

Visi soal pengelolaan kekayaan alam termasuk migas sebenarnya termaktub dalam pasal 33 UUD 45, bahwa pengelolaan migas harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, Bung Karno banyak berfikir tentang cara mentransfer kepemilikan kekayaan alam dan perusahaan vital dari tangan asing ketangan rakyat Indonesia. Nasionalisme menjadi sentimen umum rakyat Indonesia setelah merdeka, segera setelah itu, tuntutan nasionalisasi perusahaan milik asing bergolak dimana-mana. Meskipun sudah merdeka, kepemilikan asing terhadap sektor pertambangan masih dominan, diperkuat dengan masih berlakunya Mining Law 1899, yang merupakan produk kolonial Belanda (Higgins 1990: 40)

Bung Karno menyadari, ekonomi nasional tidak akan tumbuh jikalau masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Belanda dan asing lainnya. Tidak akan ada reorganisasi produksi, tidak akan ada industrialisasi, dan tidak akan ada kemakmuran bagi rakyat jikalau tidak ada kontrol terhadap kekayaan alam, tidak ada perusahaan negara yang mengelolah dan memasarkannya. Kita tidak anti asing (baca; investasi asing), tetapi investasi asing memiliki logikanya sendiri yang belum tentu sama dengan kepentingan pembangunan ekonomi nasional yang bertumpu pada rakyat. Inilah prinsip ekonomi “berdikari” yang didengun-dengunkan oleh Bung Karno. Di bawah Bung Karno, kontrol terhadap migas beralih ketangan pemerintah Indonesia, setelah selama ratusan tahun berada dibawah penguasaan penjajah. Kendati perusahaan asing tetap mendapatkan ijin beroperasi tetapi mereka diwajibkan mengakui kedaulatan bangsa Indonesia terhadap kekayaan migas sampai kepada tempat penjualan (point of sale). Bung Karno selalu mengingatkan, janganlah kita sebagai “A Nation Among Coolie And Coolie Among Nation” (bangsa kuli atau menjadi kuli di tengah bangsa-bangsa lain).

Tata Pengelolaan Migas

Bersamaan dengan gelombang anti-imperialisme, beberapa kilang minyak yang pada awalnya berada dibawah kendali Shell, diambil alih oleh putera-putera Indonesia. Tahun 1956, dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 34/1956 yang memutuskan mengambil alih Tambang Minyak Sumatera Utara (TMSU) dari tangan Sheel. Berikutnya, NV. Nederlands Indische Aardolie Maatschappij milik Belanda, diambil alih oleh pemerintah Indonesia, kemudian namanya berubah menjadi PT. PERMINDO (PERMIGAN). Pada saat itu, Ketika pemerintah membentuk tiga buah perusahaan negara (Permina, Pertamin, dan Permigan), ide yang terkandung di belakangnya adalah untuk mengarahkan masing-masing perusahaan pada bidang-bidang khusus dengan harapan dapat mengusai sektor hulu sampai hilir migas. Konsep ini diperkenalkan oleh Chaerul Saleh, Menteri Muda Perindustrian Dasar dan Pertambangan saat itu, bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan negara dari tiga sektor pelayanan secara sekaligus, yakni: eksplorasi, transportasi/distribusi, dan penyulingan.

Terhadap perusahaan asing, terutama “Tiga Besar” (Stanvac, Caltex, dan Shell), presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan membekukan konsesi bagi MNC dan memberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1960. UU ini menegaskan, “Seluruh pengelolaan minyak dan gas alam dilakukan negara atau perusahaan negara.” Selain itu, presiden Soekarno menawarkan renegoisasi terhadap MNC dengan point-point sebagai berikut; pembagian keuntungan/laba (PSA) sebesar 60:40 (60% Indonesia dan 40 % asing), penyerahan area eksplorasi dan konsesi dalam batas waktu tertentu (5 sampai 10 tahun), MNC wajib memenuhi kebutuhan domestik dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah, serta menjual asset dan distribusi pemasaran setelah jangka waktu tertentu. Kesuksesan pengelolaan migas pada masa itu menjadi alasan diterimanya Indonesia bergabung dalam kelompok negara pengekspor minyak (OPEC), tahun 1962.

Keuntungan besar dari sektor migas, yang merupakan 25% dari total ekspor Indonesia, diinvestasikan besar-besaran pada sektor pendidikan dan perumahan rakyat. Bung Karno berfikiran, investasi besar-besaran pada sektor pendidikan jauh lebih menguntungkan dimasa depan ketimbang investasi di sektor yang menghasilkan profit.

Sumber : Rudi Hartono, Pengurus DPP PAPERNAS.

Rabu, 18 Juni 2008

Konsep Diri


sore itu alarm dikosan berbunyi pukul 16.00, ketika ku llihat ternyata jadwal kajian mingguan di LPM SiGMA. bergegas ku mencuci muka, karena dari siang aku hanya tergeletak (tidur-tiduran). menuju markas yang konon katanya markas independen. Konsep diri, itulah tema kajian Rabu ini (18/06) di LPM SiGMA. kajian mingguan yang diisi kang Sobari, Alumni LPM SiGMA (senior kaliii ya) begitu santai tapi membeludak naluri imajinasiku menyimak materi yang dia keluarkan. yang hadir pada kajian kali ini cukup sepi sekelas LPM (pengurus hanya ada 5 orang dan wartawan Magang hanya 2 orang) mungkin terlalu sibukkah crew?atau emang lupa kalau hari ini ada kajian? ku tahu, itu bukan urusan diri ku yang ingin menambah potensi diri. kang sobari begitu antusias meski tampak serius terlihat dari raut wajahnya. ternya ada tiga hal yang di perhatikan dalam konsepsi diri, yaitu cita-cita, citra dan harga diri seseorang itu sendiri begitu kata kang Sobari. materi yang disampaikan Kang sobari ini Bertajuk cerita/cerpen berkolaborasi dengan teoritis Konsep Diri ini menambah ransangan pada diriku untuk mengarungi kehidupan."Materi kajian kali ini sengaja mengusung tema konsepsi diri karena untuk menumbuhkan Konsepsi diri di LPM SiGMA ".Jelas Ibu Litbang, Yuwi Manisa diakhir Kajian(18.25 Wib).

Sabtu, 29 Maret 2008

Bangka Belitung




Bangka Belitung (Babel) adalah sebuah provinsi Indonesia yang terdiri dari Pulau Bangka dan Belitung serta beberapa pulau kecil yang terletak di bagian timur Sumatra, dekat dengan Provinsi Sumatra Selatan. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkal Pinang. Provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari 2002.

Selat Bangka memisahkan Sumatra dan Bangka, sedangkan Selat Gampar memisahkan Bangka dan Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Tiongkok Selatan, bagian selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Belitung oleh Selat Karimata.

Kepulauan Bangka Belitung merupakan bekas Provinsi Sumatra Selatan, namun menjadi provinsi sendiri bersama Banten dan Gorontalo pada tahun 2000. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 tanggal 4 Desember 2000. Propinsi Kepulauan Bangka Belitung berasal dari sebagian wilayah Provinsi Sumatra Selatan.

Batas

Propinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai batas wilayah:

  • Sebelah utara dengan Laut Natuna

  • Sebelah timur dengan Selat Karimata

  • Sebelah selatan dengan Laut Jawa

  • Sebelah barat dengan Selat Bangka

Posisi Geografis

Posisi geografis propinsi ini adalah 1º50' - 3º10' LS dan 105º - 108º BT

Rumah Adat

  • Rumah Panggung

Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka. Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur, yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah. Berkaitan dengan tiang, masyarakat Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang , di mana bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Sedangkan atap ditutup dengan daun rumbia, untuk dinding biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari Palembang, dimana sebagian dari atap sisi bangunan terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur Non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh Non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.

  • Rumah Limas

  • Rumah Rakit

Kain Tradisional

  • Kain Cual

Senjata tradisional

  • Parang bangka bentuknya seperti layar kapal. Alat ini digunakan terutama untuk perkelahian jarak pendek. Senjata ini mirip dengan golok di Jawa, namun ujung parang ini dibuat lebar dan berat guna meningkatkan bobot dengan kegunaan supaya sasaran dapat terpotong dengan cepat. Parang yang berdiameter sedang atau sekitar 40 cm juga dapat digunakan untuk menebang pohon karena bobot ujungnya yang lebih besar dan lebih berat.

  • Kedik adalah alat tradisional yang digunakan sebagai alat pertanian. Alat ini digunakan di perkebunan terutama di kebun lada. Dalam menggunakannya si pemakai harus berjongkok dan bergerakan mundur atau menyamping. Alat ini digunakan dengan cara diletakkan pada tanah dan ditarik ke belakang. Alat ini efektif untuk membersihkan rumput pengganggu tanaman lada. Kedik biasanya digunakan oleh kaum wanita karena alatnya kecil dan relatif lebih ringan. Kedik hanya dapat digunakan untuk rumput jenis yang kecil atau rumput yang tumbuh dengan akar yang dangkal, bukan ilalang.

  • Siwar Panjang

Alat Musik dan Tarian Tradisional

  • Dambus

  • Suling

  • Gendang Melayu

  • Tari Tanggai

  • Tari Zepin

  • Tari Campak

Masakan/Makanan Tradisional

  • Lempah kuning adalah masakan khas dari Pulau Bangka. Bahan dasar makanan ini adalah ikan laut dan diberi bermacam bumbu dapur seperti kunyit, bawang merah dan putih serta lebngkuas dan terasi atau belacan yang khas dari daerah Bangka.

  • Getas

  • Rusip adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar ikan bilis yang dicuci bersih dan diriskan secara steril, kemudian dicampur dengan garam yang komposisinya seimbang. Di samping itu ditambahkan juga air gula kabung agar aroma lebih terasa, kemudian disimpan sampai menjadi matang tanpa proses pemanasan. Adonan ini harus ditutup dengan wadah yang rapat agar tidak tercampur dengan benda asing apapun. Dahulu biasanya proses adonan ini ditempatkan dalam guci yang bermulut sempit. Suhu ruangan harus dijaga. Makanan ini dapat dimasak dulu atau dimakan langsung dengan lalapan.

  • Calok

  • Teritip

  • Belacan

  • Tembiluk

  • Lempah darat

  • Otak-otak

  • Sambalingkung

  • Martabak bangka

  • Lempok, makanan sejenis dodol yang terbuat dari campuran gula pasir dan buah-buahan tertentu (umumnya cempedak, nangka dan durian). Buah yang digunakan dilembutkan sampai memyerupai bubur, kemudian dicampur dengan gula pasir dengan perbandingan tertentu dan dipanaskan di atas api sampai kecoklatan dan mudah dibentuk. selama pemanasan, campuran harus selalu diaduk.

Pembagian administratif

  1. Kabupaten Bangka

  2. Kabupaten Bangka Barat

  3. Kabupaten Bangka Tengah

  4. Kabupaten Bangka Selatan

  5. Kabupaten Belitung

  6. Kabupaten Belitung Timur

  7. Kota Pangkal Pinang

Sejarah kepahlawanan Bangka

  • Depati Bahrin

  • Depati Amir

  • Batin Tikal

Tempat Wisata

Khusus Pulau Belitung merupakan pulau yang indah dengan pasir putih, pemandangan unik dengan pantai pasir putih yang asli dihiasi oleh batu-batu granit yang artistik dan air laut sejernih kristal, dan dikelilingi oleh ratusan pulau-pulau kecil. Salah satu pantai terbaik dan unik di Indonesia seperti :

  • Tanjung Kelayang

  • Tanjung Binga

  • Tanjung Tinggi

  • Pulau Lengkuas

  • Pantai Punai




** http://id.wikipedia.org

GMNI


Sekilas Tentang ' GMNI'


GmnI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) didirikan pada 23 Maret 1954, berada dalam suasana berlakunya UUD Sementara 1950, ketika bangsa Indonesia baru 9 (sembilan) tahun merdeka. Ketika itu bangsa Indonesia sedang menyelenggarakan pemilihan umum yang pertama, untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, DPRD Provinsi, kabupaten / kota, dan anggota konstituante. GMNI lahir sebagai fusi Tiga Organisasi Mahasiswa, yaitu Gerakan Mahasiswa Marhaenis, Gerakan Mahasiswa Demokrat dan Gerakan Mahasiswa Merdeka. GmnI merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa yang beraliran kebangsaan dan bersifat Nasional (bukan local). Bung Karno sebagai Tokoh Pendiri GMNI.

Azas organisasi adalah: MARHAENISME ajaran Bung Karno.

Dilihat dari konteks sosio-nasionalisme, bangsa kita sekarang berada pada jaringan kapitalisme global karena eskalasi politik ekonomi suatu negara kapital menjajah negara-negara berkembang lewat pinjaman atau hutang dalam rangka melakukan penundukan terhadap negara-negara tersebut. Model penjajahan seperti ini tidak akan terasa secara langsung, namun implikasi yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi kedaulatan suatu negara mereka bisa mengintervensi setiap persoalan politik dalam negeri melalui masalah HAM, Buruh, terorisme dan lain-lain.

Dilihat pada konteks sosio demokrasi, negara kita memang negara yang menganut paham demokrasi dalam sistem politiknya. Dimana banyak partai politik lahir dalam rangka kontestasi pemilu. Ini mencitrakan Indonesia menganut multi partai. Pada sisi demokrasi memang suatu hal yang sangat bagus, namun terjadi pergeseran pada tatanan nilai demokrasi di Indonesia. Indonesia yang berdasarkan sistem demokrasi pancasila berubah perlahan kearah demokrasi barat, karena bukan didasarkan prinsip dasar musyawarah mufakat melainkan suara mayoritas yang kurang mencerminkan aspirasi berbagai golongan.

Menanggapi persoalan bangsa tersebut, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia sebagai organisasi masyarakat yang memiliki graas root pada mahasiswa. Menaruh perhatian terhadap perubahan bangsanya. Dalam rangka memajukan bangsanya agar maju, bermartabat, berdaulat, adil dan makmur mencoba mentrasformasikan pemikirannya dalam memberikan usul dan gagasan yang konstruktif dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah serta memberikan kontribusi perannya sebagai agen of change melalui partisipasi pembangunan demi kemajuan dan kejayaan yang dicita-citakan sebagimana tertuang pada pembukaan UUD 1945 alenia ke IV.

GMNI yang memiliki basis pada tingkatan mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual dan gerakan melakukan peran dan fungsinya sebagai motor penggerak perubahan bangsa dengan cara mendistribusikan kader-kadernya untuk siap mengisi pembangunan pada era reformasi ini. Yakni dengan menerjunkan kadernya ke masyarakat untuk mengintegrasikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari rakyat Indonesia membangun masyarakat bangsa, dan negara Indonesia. Sebab filosofi perjuangan organisasi (pejuang pemikir - pemikir pejuang) tetap mengkristal dalam diri kadernya untuk terus konsisten berjuang bersama rakyat menuju Indonesia jaya.

GmnI JAYA...!!!

Marhaen MENANG!!!

Merdeka!!!